Berita Lokal : HAJI ISMAIL WIJAYA (SURAMADU) MENENTANG JANJI KAMPANYE WALIKOTA JAYAPURA, 2024/2025.

Haji Ismail Wijaya (Suramadu) di Kediamannya (Warung Cotto Madura) BTN Skyland Kotaraja.
 
Jayapura,  – Janji kampanye bukan sekadar kata-kata manis yang diucapkan di hadapan rakyat, melainkan amanah sakral yang wajib ditepati setelah memegang kekuasaan,   Kebenaran ini kini disuarakan dengan tegas oleh Haji Ismail Wijaya atau yang akrab disapa Agus Suramadu, mewakili warga kawasan BTN Skyline (Bintang Mas) Kotaraja dan sekitarnya. Ia secara tegas menentang segala bentuk pengabaian terhadap janji-janji yang disampaikan secara langsung saat kampanye terbuka di lapangan BTN Skyline (Bintang Mas) pada pemilihan Wali Kota Jayapura tahun, 2024/2025, Kepada tim media, di kediamanya, Rabu, 29 Juli 2026.
 
Melalui Haji Ismail Wijaya (Suramadu) yang juga selaku salah satu Tim Pemenangannya, Warga menuntut realisasi nyata atas tiga poin utama yang dijanjikan saat kampanye politiknya saat itu,  Pertama, pengerjaan serius ruas jalan dari kawasan BTN Skyline menuju Pasar Otonom dan lingkungan sekitar, Seperti yang sering diliput media lokal, jalan ini kerap rusak, berlubang, dan tergenang air, sangat menghambat pergerakan warga serta arus perdagangan harian. Kedua, pemasangan lampu penerangan jalan yang layak  sepanjang  jalan BTN Skayland Kotaraja guna menjamin rasa aman warga saat beraktivitas di malam hari,  Ketiga, pembangunan dan penataan ulang Konsep Pasar Youtefa persis seperti rancangan yang dipaparkan saat masa kampanye, yang hingga kini belum terlihat wujudnya.
 
Haji Ismail Wijaya (Suramadu) saat jumpa Pers dengan Tim Media Akrapnews  Papua, di Kediamanya.

Mengenai Pasar Youtefa, warga bersikeras meminta penataan yang adil,  lantai atas dikhususkan bagi pedagang pakaian, sedangkan lantai dasar untuk jenis dagangan lainnya. Terminal pasar harus segera diperbaiki, saluran pembuangan limbah pasar ikan dibenahi agar tidak mencemari lingkungan, serta dibangun kios-kios permanen bagi para pedagang sayur, terutama mama-mama  Papua dan warga lainnya,  agar tidak lagi berjualan di atas tanah atau pinggir jalan.
 
Dengan nada tegas, Haji Ismail mengingatkan,  pengelolaan dan pengawasan pasar mutlak tidak boleh diserahkan hanya kepada satu kelompok atau golongan tertentu. “Pasar ini milik semua warga Jayapura, pengurusannya harus melibatkan seluruh elemen, mencerminkan semangat kebersamaan Nusantara, bukan monopoli satu pihak,” tegasnya. Ia juga menegaskan, setiap pelaksanaan proyek wajib menyerap tenaga kerja warga setempat yang belum bekerja, agar pembangunan sekaligus menjadi penggerak ekonomi padat karya yang langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
 
Berbagai media lokal seperti Cenderawasih Pos, Jubi, dan sejumlah portal berita daring telah berulang kali memberitakan keluhan warga atas kondisi jalan yang memprihatinkan, minimnya penerangan, serta kesulitan yang dialami pedagang Pasar Youtefa meski retribusi tetap dipungut rutin. Pemerintah Kota memang sempat menyebutkan adanya rencana perbaikan, namun rakyat menolak sekadar janji manis dan dokumen rencana; warga menuntut bukti nyata dari apa yang pernah diucapkan di hadapan mereka sendiri, Ujarnya.
 
Rakyat mengingatkan,  kewibawaan seorang pemimpin tidak diukur dari kemampuan berbicara di atas panggung, melainkan dari kesungguhan menepati janji yang telah disampaikan. Apa yang dijanjikan di tengah lapangan warga, harus menjadi kewajiban yang dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan penuh tanggung jawab, ujarnya. Syowi🙏

✍️Redaksi AKRAPNEWS- Papua,
Kontributor: Vicky Ririhena
Edit & Publikasi : Andi A Mallawa, S.Kom


Posting Komentar

0 Komentar