Oleh : Vicky Ririhena
           
Akrapnews-Ambon,|| Kondisi memprihatinkan kembali terekam di Sungai Waitomu Kota Ambon, dekat Kantor Dinas PUPR Provinsi. Jaring penahan sampah yang terpasang di sana, diangkat setiap dua hari sekali, selalu penuh dengan tumpukan sampah pasca-hujan deras. Fenomena ini menjadi pengingat nyata akan bahaya yang mengancam Teluk Ambon yang indah, sekaligus menyoroti permasalahan serius terkait pengelolaan sampah di kota ini.
 
Sampah-sampah yang memenuhi jaring penahan tersebut berasal dari got-got dan akhirnya bermuara di sungai. Jika dibiarkan terus-menerus, tumpukan sampah ini akan mencapai Teluk Ambon, merusak ekosistem laut, mengancam biota, dan mencoreng keindahan alam yang menjadi kebanggaan masyarakat.
 
Seruan untuk kesadaran kolektif telah digaungkan. Ajakan dari Bapak Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, yang berbunyi "Mari katong sama-sama pastikan membuang sampah pada tempatnya. Jangan buang di sungai/kali, di got, dan sembarang tempat" bukan sekadar imbauan, melainkan sebuah panggilan darurat. Masyarakat diajak untuk proaktif, bergotong royong membersihkan Ambon, dan tidak hanya menggantungkan harapan pada pemerintah semata. Pertanyaan reflektif, "Kalau bukan katong, mau harap sapa lai? Kalau bukan sekarang, mau tunggu apa tempo lai?" menggema, menyentuh inti tanggung jawab setiap warga.
 
Apresiasi terhadap upaya pemerintah, khususnya Walikota Ambon, dalam menyelamatkan Teluk Ambon dari sampah plastik yang disebabkan oleh "tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab" juga mengemuka. Namun, di sisi lain, kritik konstruktif juga disampaikan. Masyarakat berharap adanya penegakan hukum yang lebih tegas melalui Peraturan Daerah (PERDA) penanganan sampah yang mengacu pada UU No. 18 Tahun 2008 dan PP No. 81 Tahun 2012, serta pemberlakuan sanksi bagi para pembuang sampah sembarangan.
 
Pdt. Buce Ayaal menegaskan bahwa bukan hanya daratan, tetapi juga lautan adalah bagian dari tanda kehadiran Tuhan. Oleh karena itu, kepedulian terhadap alam adalah bentuk syukur dan tanggung jawab spiritual. Ucapan terima kasih untuk kerja keras Bapak Walikota dan semua pihak yang memiliki keprihatinan terhadap alam menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh agama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
 
Permasalahan sampah di Ambon bukanlah beban satu pihak, melainkan tantangan bersama. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah, mengolah sampah basah menjadi pupuk, dan mendaur ulang sampah plastik menjadi nilai ekonomis adalah langkah nyata yang bisa dilakukan. Pemerintah, di sisi lain, diharapkan untuk memperkuat regulasi, infrastruktur pengelolaan sampah, dan penegakan hukum. Dengan semangat "Beta Par Ambon... Ambon Par Samua," diharapkan Ambon dapat menjadi kota yang bersih, indah, dan berkelanjutan.
Syowi🙏

Kontributor : Vicky Ririhena
Edit by: Andi A Mallawa