Editorial Ekonomi Indonesia. Jawa sebagai Lokomotif, Target 6% PDB untuk Dorong Investasi Nasional – Perbandingan dan Kolaborasi dengan Papua



                 Oleh: Vicky Ririhena
Jayapura, Akrapnews ||" Ekonomi Indonesia terus berusaha mengukuhkan posisinya, dengan Jawa sebagai lokomotif utama yang menyumbang signifikan bagi pertumbuhan nasional. Sebagai contoh, Jawa Tengah sendiri menyumbang 8,25% terhadap PDB nasional pada 2024 dan memiliki peran penting dalam sektor pertanian serta industri". 

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mengajak para kepala daerah untuk mampu meningkatkan PDB daerahnya hingga 6% sebagai upaya menarik investor dan memperkuat perekonomian secara menyeluruh.
 
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6% pada tahun 2026, pemerintah telah menetapkan tiga program utama yang fokus pada hilirisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta percepatan swasembada pangan dan energi. Hilirisasi menjadi salah satu pilar utama, dengan pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Selain itu, kebijakan makan bergizi gratis bagi 82 juta penerima manfaat juga dianggap krusial untuk membangun SDM yang unggul, sementara upaya swasembada energi dengan penerapan B50 dan E10 diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan menggerakkan sektor pertanian.
 
Dalam rangka menarik investor, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah aktif melakukan promosi, seperti kunjungan kerja ke Australia untuk menawarkan peluang investasi di sektor hilirisasi dengan potensi mencapai USD 618 miliar serta proyek strategis nasional lainnya. Beberapa daerah telah menunjukkan capaian yang menginspirasi, seperti Sulawesi Barat yang pada triwulan I tahun 2024 berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,02%, yang didorong oleh sektor pertanian dan industri pengolahan.
 
Perbandingan Ekonomi Jawa dan Papua
 
Secara spasial, Jawa memiliki peran dominan dalam ekonomi nasional, dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 57,04% pada triwulan II 2024, meskipun pertumbuhannya sebesar 4,92% (y-on-y) lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah lainnya. Contohnya, Jawa Barat pada tahun 2024 tumbuh sebesar 4,95%, dengan sektor industri pengolahan dan transportasi serta pergudangan menjadi sumber pertumbuhan utama. Struktur ekonominya lebih beragam dan terintegrasi, dengan perkembangan sektor industri dan jasa yang pesat.
 
Sementara itu, kelompok provinsi Maluku dan Papua menyumbang hanya 2,70% terhadap PDB nasional pada triwulan II 2024, namun menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 8,45% (y-on-y). Pada triwulan I 2025, Papua Barat bahkan mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 25,53% (yoy), didorong oleh sektor industri pengolahan dan ekspor. Ekonomi Papua masih bersifat ekstraktif, dengan sektor pertanian sebagai mata pencarian utama sebagian besar penduduk, serta potensi di sektor perkebunan, perikanan, dan kehutanan. Namun, seiring dengan proyek besar seperti investasi Rp 83 triliun untuk industri gula dan bioetanol di Merauke, sektor industri mulai berkembang dan diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan baru.
 
Kolaborasi Ekonomi Jawa dan Papua
 
Kolaborasi antar wilayah telah mulai terealisasi, seperti yang dilakukan oleh Provinsi Papua Barat Daya dan Jawa Timur yang menyelenggarakan misi dagang dan investasi di Kota Sorong pada Juni 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan jejaring konektivitas dan mempertemukan pelaku usaha dari kedua daerah, sebagai wujud semangat kolaborasi yang saling menguntungkan. Melalui kerja sama seperti ini, Jawa dapat berbagi pengalaman dalam pengembangan industri, manajemen sumber daya manusia, serta akses pasar, sementara Papua dapat menawarkan potensi sumber daya alam yang melimpah dan peluang investasi di sektor-strategis seperti pertanian terintegrasi, energi terbarukan, dan pariwisata.
 
Bagi daerah-daerah di Papua, termasuk Jayapura, terdapat peluang besar untuk berkontribusi pada target nasional. Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Papua akan tumbuh lebih kuat pada tahun 2026 dengan fokus pada lima area sinergi prioritas, antara lain memperkuat stabilitas dan mendorong permintaan hilirisasi, industrialisasi, penguatan ekonomi kerakyatan, perluasan pembiayaan ekonomi, akselerasi ekonomi dan keuangan digital, serta kerja sama investasi dan perdagangan. Potensi sektor pariwisata, perikanan (seperti produk olahan ikan Jayapura yang kini menjadi primadona), dan pengembangan energi terbarukan dapat menjadi daya tarik bagi investor.
 
Namun demikian, tantangan tetap ada, seperti perlu memperbaiki daya beli masyarakat dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata. Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan – termasuk kolaborasi yang erat antara Jawa dan Papua – target peningkatan PDB daerah hingga 6% bukanlah hal yang mustahil dan diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi untuk kemajuan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.syowi🙏

Kontributor: Vicky Ririhena
Edit by: Andi Askari Malawa

Posting Komentar

0 Komentar