EDITORIAL: "BOMBERAI BERGERAK! SUKU-SUKU ADAT WARGA WILAYAH ADAT BOMBERAI GANDENG KPA PAPUA JAGA WARGA DARI HIV/AIDS"


Kolaborasi Melibatkan Seluruh Kawasan Kepala Burung Bagian Selatan dan Semenanjung Bomberai, Sasar Ribuan Masyarakat dari Berbagai Suku

                     Oleh : Frans Rohrohmana
 Frans Rohrohmana,  Jurnalis Akrapnews~Papua ( Wilayah Adat     Bomberai)._
       
Fakfak, Akrapnews, //" Koalisi pemimpin adat dari seluruh Wilayah Adat Bomberai mengumumkan peluncuran program kerja sama besar-besaran dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua untuk memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS di kawasan yang mencakup Kepala Burung bagian selatan dan semenanjung Bomberai".

Wilayah Adat Bomberai, yang berdasarkan pembagian administratif dan etnografis masa kolonial Belanda (Nederlands-Nieuw-Guinea) menjadi satu kesatuan budaya, meliputi wilayah inti semenanjung Bomberai yaitu Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana, Teluk Berau, serta pegunungan dan pesisir selatan Kepala Burung – yang pada masa Belanda termasuk dalam afdeeling Fakfak. Program ini juga menjangkau bagian Selatan Kepala Burung (Vogelkop Selatan) yang mencakup Teluk Bintuni bagian selatan, Teluk Arguni, Kokas, dan Babo, sekaligus wilayah pesisir selatan Mimika yang secara adat termasuk dalam kawasan budaya Bomberai meskipun kini masuk Papua Tengah.
 
Kegiatan ini muncul sebagai tanggapan atas data resmi KPA Provinsi Papua yang mencatat sebanyak 25.678 kasus HIV/AIDS di seluruh Papua per 31 Desember 2025. Meskipun wilayah Bomberai belum termasuk dalam daftar wilayah dengan angka kasus tertinggi, pemimpin adat dari berbagai suku utama di kawasan ini menyatakan pentingnya antisipasi dini mengingat dinamika sosial dan budaya masyarakat pesisir.
 
“Wilayah Adat Bomberai memiliki ikatan bahasa dan adat yang kuat, menjadikan kita satu keluarga besar. Kita tidak bisa menunggu angka kasus naik baru bertindak – solidaritas antar suku harus kita jadikan kekuatan untuk menjaga kesehatan bersama,” ujar Kepala Adat Suku Mbaham (Fakfak), Haji Amiruddin Mbaham, dalam acara peluncuran program di Kota Fakfak. Turut hadir dalam acara tersebut pemimpin adat dari suku Irarutu, Kuri, Arguni, Mairasi, Kowiai (Koiwai), serta perwakilan Suku Kamoro bagian timur Kaimana dan kelompok Kokonas/Susunu dari beberapa distrik pesisir selatan Papua.
 
Program kerja sama antara Wilayah Adat Bomberai dan KPA Provinsi Papua akan fokus pada tiga poin utama: penyuluhan kesehatan dengan pendekatan yang sesuai budaya lokal, peningkatan akses layanan tes dan konseling di pelosok wilayah mulai dari Teluk Berau hingga Teluk Arguni, serta kampanye pencegahan yang mengedepankan pesan “Jaga diri & keluarga dari HIV/AIDS” yang selaras dengan nilai-nilai adat Bomberai.
 
dr. Anton Tony Mote, Ketua Harian KPA Provinsi Papua, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif besar dari Wilayah Adat Bomberai. “Kerjasama dengan seluruh wilayah adat ini sangat krusial karena mereka memiliki akses dan kepercayaan masyarakat yang tinggi di setiap sudut kawasan. Kita akan menyediakan sumber daya dan pelatihan untuk tenaga kesehatan lokal serta relawan masyarakat dari berbagai suku di Bomberai,” jelasnya.
 
Selain pencegahan HIV/AIDS, program ini juga menyertakan kampanye “Stop Minuman Keras” yang dihubungkan dengan risiko peningkatan perilaku berisiko. Tokoh muda dari Suku Kowiai, Yoseph Kowiai, menambahkan bahwa kaum muda dari seluruh Wilayah Adat Bomberai akan aktif terlibat sebagai relawan dalam menyebarkan informasi ke kampung-kampung terpencil.
 
“Kita akan menggunakan cara yang dekat dengan kita – mulai dari cerita rakyat, tari tradisional yang disesuaikan pesannya, hingga pertemuan rutin kelompok masyarakat di seluruh semenanjung Bomberai dan bagian selatan Kepala Burung – untuk menyampaikan informasi penting ini,” ujar Yoseph.
 
Saat ini, tim penyuluh yang terdiri dari perwakilan KPA Provinsi Papua dan pemuda dari berbagai suku di Wilayah Adat Bomberai sudah mulai melakukan kunjungan ke distrik-distrik di Kabupaten Fakfak dan Kaimana, dengan target mencapai seluruh kawasan budaya Bomberai dalam waktu enam bulan ke depan. Syowi🙏
 
 
Redaktur:  Frans Rohrohmana Jurnalis  Akrapnews-Papua
                   Wilayah Adat Bomberai.
Edit by    :  Vicky Ririhena

Sumber: KPA Provinsi Papua, Sekretariat Koalisi Pemimpin Adat Wilayah Adat Bomberai, catatan etnografis wilayah Bomberai (dokumen resmi lokal tahun 2025)

Posting Komentar

0 Komentar