Oleh : Frans Rohrohmana
Forum Pemuda Sulawesi Selatan,
1 Desember 2025
AKRAPNEWS-Jayapura||"Aksi unjuk rasa di Papua pada 1 Desember 2025 lalu, yang ditandai ciri khas bendera Bintang Kejora, kembali memicu perdebatan. Reaksi keras, terutama dari sejumlah pihak di luar Papua, menunjukkan adanya kesalahpahaman yang besar tentang makna lambang dan kenyataan di lapangan.
Kita perlu memahami bahwa bendera Bintang Kejora, bagi sebagian masyarakat Papua, bukan sekadar kain berwarna. Ia adalah cerminan sejarah panjang perjuangan, jati diri budaya, dan harapan yang belum sepenuhnya terjawab. Menyikapinya dengan cercaan dan hinaan hanya akan memperburuk luka lama dan memperkeruh suasana.
Namun, di sisi lain, kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa bendera Bintang Kejora memiliki makna pemisahan diri bagi sebagian masyarakat Indonesia. Pengibarannya, dalam keadaan tertentu, dapat dianggap sebagai provokasi dan ancaman terhadap keutuhan NKRI.
Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap?
Pertama, mari kita kedepankan rasa peduli dan musyawarah. Cobalah memahami sudut pandang masyarakat Papua, tanpa harus menyetujui setiap tindakan mereka. Dengarkan keinginan mereka, tanpa menghakimi.
Kedua, mari kita meninjau ulang dengan cermat kebijakan pemerintah pusat terhadap Papua. Apakah pembangunan sudah merata? Apakah keadilan sudah ditegakkan? Apakah suara masyarakat Papua sudah didengar?
Ketiga, mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Hindari ujaran kebencian dan provokasi yang hanya akan memecah belah kita. Ingat, Papua adalah bagian dari Indonesia, dan kita semua bertanggung jawab untuk menjaga keutuhannya.
Dengan demikian menanggapi aksi di Papua ini membutuhkan kebijaksanaan dan kepala dingin. Bukan dengan emosi dan prasangka.
Hanya dengan begitu, kita bisa membangun masa depan Papua yang lebih baik, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Syowi.🙏
Kontributor. Frans Rohrohmana
0 Komentar