Oleh: Alex Reniban
Konser Lucky Dube di Papua Jayapura, (Rabu,03-12-2025)
AKRAPNEWS-Jayapura// Suara Reggae Legendaris Lucky Dube tidak hanya terdengar di tanah Papua—ia menembus lapisan terdalam hati masyarakat yang selama ini berjuang untuk martabat, kesetaraan, dan hak-hak dasar.
Pria yang dulu melawan apartheid di Afrika Selatan ternyata membawa pesan yang begitu relevan, menyentuh urusan yang dekat dengan pengalaman banyak orang di sini.
Baru saja, pada Rabu (3/12), Grup Band Lucky Dube menggelar konser di Jayapura. Bukan sekadar pesta musik semata, konser itu menjadi tanda sejarah kecil—saat nada-nada pembebasan dari benua Afrika bertemu dengan luka sejarah yang hidup di Papua.
Momen itu semakin terasa ketika ada aksi spontan simbolik: pengibaran Bendera Bintang Kejora. Tanpa disangka, konser itu membuka tabir bahwa musik, identitas, dan politik selalu saling terjalin, tidak pernah bisa dipisahkan menjadi bagian yang terpisah.
Bagi sebagian hadirin, itu hanyalah hiburan: panggung yang megah, cahaya yang memukau, kenangan dari lagu-lagu reggae legendaris seperti Remember Me, Prisoner, dan Different Colours, One People yang membuat anak muda bergoyak dan bersorak. Tetapi bagi banyak orang Papua, momen itu jauh lebih dalam dari sekadar hiburan.
Lucky Dube tidak hanya seorang penyanyi—ia adalah pemberi kekuatan bagi yang tertindas. Melalui lagunya, ia menunjukkan bahwa perlawanan bisa dilakukan tanpa senjata, hanya dengan kata-kata yang jujur dan nada yang penuh keyakinan. Musiknya bukan sekadar rangkaian lirik, melainkan bahasa yang menyampaikan penderitaan, tangis, dan harapan.
Ia juga membuka pintu ke dalam ranah batin yang jarang dibahas di ruang publik resmi: tentang martabat, luka kolonial, dan upaya mencari kebebasan dalam arti yang luas.
Untuk masyarakat Papua, pesan ini seperti renungan yang tepat: kemiskinan tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga diri, dan penderitaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyakiti sesama korban.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan dalam ranah berbicara dan berdiskusi—yaitu kebebasan menyampaikan aspirasi dan berpartisipasi dalam perdebatan yang konstruktif—harus menjadi hak yang dinikmati Papua sama seperti daerah-daerah lain di Indonesia.
Pembebasan yang sebenarnya tidak hanya tentang peran dalam masyarakat, tetapi juga tentang membangun ruang di mana setiap orang berdiri sejajar, tanpa ada yang dianggap "kelas kedua".
Ketika beberapa orang di tengah kerumunan mengibarkan Bintang Kejora, reaksi tegas aparat bukan hal yang baru. Namun suasana hati penonton yang tersentuh oleh lagu-lagu pembebasan itu menunjukkan bahwa permasalahan Papua membutuhkan lebih dari sekadar pendekatan keamanan—ia butuh pengakuan terhadap pengalaman kolektif yang selama ini tertekan.
Di sinilah ironi terasa: musik pembebasan dari Afrika diterima dengan hangat, tetapi aspirasi pembebasan yang hidup di jiwa orang Papua masih dianggap ancaman yang menakutkan.
Di atas semua itu, Lucky Dube menanamkan harapan: bahwa Tuhan selalu berpihak pada yang benar, dan keadilan akan selalu menemukan jalannya. Suaranya yang melampaui batas ras dan bangsa menjadi pelita bagi siapa pun yang masih berjuang—termasuk warga Papua yang menginginkan kebebasan berbicara dan berpartisipasi secara setara dengan seluruh warga negara.
Konser di Jayapura menjadi ruang untuk merenung: suara pembebasan dari Afrika justru membangkitkan sesuatu yang mendalam di jiwa kolektif orang Papua, sesuatu yang tidak bisa dibungkam oleh aturan keamanan.
Seperti yang pernah dikatakannya: "Kamu tidak diciptakan untuk ditindas. Kamu diciptakan untuk merdeka, bermartabat, dan berdiri sejajar dengan siapapun di dunia." Pesan itu bukan hanya kata-kata—ia adalah panggilan untuk memastikan bahwa kebebasan berdiskusi menjadi kenyataan bagi Papua dan seluruh daerah di Indonesia.Syowi🙏
Kontributor. Alex Reniban
0 Komentar