Oleh : Vanny Mansnembra
AKRAPNEWS-Jayapura//Aksi seorang oknum yang menaikkan bendera Bintang Kejora saat konser Lucky Dube di Lapangan Karang PTC Entrop, Jayapura Papua, Konser yang berlangsung pada Rabu, 3 Desember 2025, baru-baru ini memicu reaksi keras dari ketua Garcin Papua. HYU, yang mengutuk tindakan tersebut, menganggapnya sebagai provokasi yang dapat mengganggu stabilitas dan keamanan. Namun, apakah reaksi berlebihan ini justru mengaburkan akar masalah yang sebenarnya, atau malah sekadar mencari sensasi populis?
Simbol Bintang Kejora, bagi sebagian masyarakat Papua, bukan sekadar bendera separatis. Ia adalah representasi identitas, sejarah, dan aspirasi yang terpendam. Mengutuk simbol tanpa memahami alasan mengapa simbol itu muncul adalah tindakan yang dangkal dan kontraproduktif.
Tentu saja, tindakan menaikkan bendera tersebut di ruang publik dapat dianggap melanggar hukum dan mengganggu ketertiban. Namun, respons yang tepat bukanlah dengan mengutuk dan menstigmatisasi, melainkan dengan membuka dialog yang konstruktif. Mengapa simbol itu masih relevan bagi sebagian masyarakat Papua? Apa yang membuat mereka merasa perlu untuk mengekspresikan identitas mereka melalui simbol tersebut?
HYU, sebagai organisasi kepemudaan yang memimpin Garcin Papua, seharusnya berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat Papua.
Alih-alih mengutuk, HYU seharusnya mendorong pemerintah untuk lebih serius menangani masalah-masalah mendasar yang menjadi penyebab munculnya aspirasi - aspirasi ini. Ketidakadilan ekonomi, diskriminasi rasial, pelanggaran HAM masa lalu, dan kurangnya ruang partisipasi politik adalah beberapa faktor yang perlu diatasi.
Mengutuk simbol hanya akan memperdalam jurang pemisah antara Papua dan Indonesia. Tindakan yang lebih bijak adalah dengan mendengarkan, memahami, dan mencari solusi bersama. Pemerintah perlu menunjukkan komitmen yang sungguh-sungguh untuk membangun Papua yang lebih adil, sejahtera, dan inklusif.
Jika pemerintah dan masyarakat sipil mampu menciptakan iklim yang kondusif, di mana aspirasi masyarakat Papua dapat diakomodasi dan dihormati, maka simbol-simbol separatisme akan kehilangan daya tariknya. Sebaliknya, jika hanya ada represi dan stigmatisasi, maka simbol-simbol tersebut akan semakin mengakar dan sulit dihilangkan.
Reaksi berlebihan HYU terhadap bendera Bintang Kejora adalah contoh bagaimana kita seringkali terjebak dalam simbol-simbol, tanpa mau melihat akar masalah yang sebenarnya. Mari kita belajar untuk lebih bijak dalam merespons perbedaan, dan lebih fokus pada upaya membangun persatuan yang sejati, bukan hanya persatuan di atas kertas.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang netizen di Papua yang menamakan diri LMG, katakan "Ko ( HYU ) siapa kah mau kutuk orang? Pengibaran Bintang Kejora itu bukan tindakan kriminal yang brutal atau Genosida,.... Bintang Kejora adalah Tanda Kehormatan dan Identitas Cultur, bahkan Simbol Kedaulatan Orang Papua,...jadi kalau HYU mau kutuk, itu hanya cari sensasi Populis, tidak paham tentang makna dan arti sebuah kutukan." Pernyataan ini semakin memperkuat argumen bahwa mengutuk simbol tanpa memahami konteks dan akar masalah adalah tindakan yang sia-sia dan kontraproduktif. SYOWI🙏
Kontributor. Vinny Mansnembra
0 Komentar