EDITORIAL : MASYARAKAT TABI-SAIRERI: "KITA CUMAN PENGHARGA DRAMA SAJA? ATAU DIJADIKAN ALAT?"


      Oleh : Frans Rohrohmana 

AKRAPNEWS-Jayapura  // Lagi-lagi, adegan kelucuan ilustrasi ini makin meriah ketika surat edaran "curhat" mulai beredar rame-rame di medsos. Di surat itu, beberapa warga Tabi-Saireri menulis dengan nada lucu tapi jujur: "Wah, udah surat terbuka, sekarang surat curhat – kapan kita bikin 'podcast drama politik' aja ya biar lebih seru!" Mereka menanggapi surat terbuka tadi dengan kata-kata kayak, "Kalian bikin surat atas nama kita, tapi gak pernah nanya pendapat kita – kayak orang yang bikin nasi goreng tapi gak tanya mau pake cabai atau enggak!" Beberapa bahkan bikin meme (nggak cuma satu, tapi ratusan!) dengan gambar kambing yang ditulis "Masyarakat Tabi-Saireri yang dijadikan alat" dan gambar dua orang yang ditulis "MBD & MDF– Pasangan 'Perjanjian Sepuluh Jari yang Lupa'" – bikin semua orang ketawa terbahak-bahak pas lihat! Ada yang juga nulis di caption meme: "MDF pak gubernur – tolong cek inbox ya, banyak surat curhat kita yang nunggu jawaban tentang Pak Marcus!"
 
"DRAMA" YANG MULAI MENJADI "KOMEDI"----------
 
Adegan makin seru ketika seorang wartawan tiba-tiba menanyai Gubernur MDF di acara apel pagi: "Pak, apakah ada perjanjian antara  (MBD) dan MDF  tentang jabatan Dirut Bank Papua? Dan apakah benar masyarakat Tabi-Saireri semua mendukungnya?" Sang gubernur langsung tersenggol, botol minumnya hampir terjatuh, dan jawabnya: "Ah, itu masalah internal mereka... dan saya tidak tahu apakah semua masyarakat setuju..." Seolah-olah dia baru saja ditangkap "mencuri mangga" di kebun tetangga dan ditanya apa rasa mangganya!
 
Secara ilustrasi sebuah adegan bisa saja diungkapkan seperti gini, dan inilah yang benar-benar terjadi beberapa hari kemudian:
 
Yang lebih lucu lagi, Bapak Matius Derek Fakhiri benar-benar mengadakan "pertemuan silaturahmi" yang rame dengan masyarakat Tabi-Saireri di lapangan desa Wosi – salah satu lapangan terbesar di wilayah Tabi-Saireri yang dipenuhi orang sampe ke pinggiran. Saat dia mulai bicara tentang "kemajuan infrastruktur di lapangan desa ini", tiba-tiba ada orang yang berdiri dan berteriak dengan suara kencang dari belakang deretan: "Pak Matius! Jangan cuma bicara lapangan desa – kapan Pak Marcus Boy Dawir jadi Dirut Bank Papua? Jangan lupa 'perjanjian sepuluh jari' yang dulu dibikin di sini juga ya! Tapi ingat deh – gue cuma bikin omongan ini sendiri, bukan wakil semua orang di lapangan desa ini!"
 
Semua orang langsung ketawa terbahak-bahak sampe lupa duduk, beberapa bahkan jatuh ke rumput lapangan desa karena terlalu ketawa, dan Pak Matius cuma bisa tersenyum bingung sambil mengelus kepala yang keringat, sembari ngomong pelan-pelan: "Ya, ya, semuanya akan dibahas dengan baik dan sesuai aturan... tenang saja ya, ini kan lapangan desa untuk silaturahmi, bukan untuk nanya-nanya ini..."
 
Lagi lagi ilustrasi adegan makin meriah... Tak lama setelah teriakan itu, tiba-tiba ada yang bawa gendang tradisional Papua dan mulai memukulnya dengan irama yang riang – tapi lirik yang dibawakannya bikin ngakak: "Pak Matius lupa janji, Pak Marcus nungguin lama, di lapangan Wosi kita tanya-tanya, tapi jawabannya cuma 'semua akan baik-baik saja'!" Semua orang ikut nyanyi dan nari sambil ketawa, sampe Pak Matius juga ikut tersenyum meskipun masih bingung. Tak lama kemudian, ada yang lihat Pak Marcus nongkrong di warung kopi yang cuma berjarak 50 meter dari pinggiran lapangan desa, sambil baca komentar meme di hp dan tersenyum malu-malu – kayak orang yang baru ketahuan "minta hadiah" tapi tidak dapat, tapi juga ikut senang lihat suasana lapangan yang meriah!
 
*POINT PENUTUP: -------------------------
AKHIR DRAMA YANG MASIH "TERKUNCI" DAN PENDAPAT YANG MASIH "BERBEDA-BEDA"----*
 
Sampe sekarang, drama "perjanjian sepuluh jari" ini masih belum ada akhir. (MBD) tetap menunggu, MDF tetep menyembunyikan rahasia, 
Gubernur MDF tetep diam – dan masyarakat Tabi-Saireri malah makin banyak yang ngomong, "Kita bukan alat untuk transaksi politik lo!" Semua ini bikin kita berpikir: apakah politik di Papua cuma "komedi" yang dibuat untuk menghibur rakyat, atau ada niat bener untuk memperbaiki keadaan dengan mendengarkan semua suara?
 
Yang pasti, drama ini bikin kita ngakak dan penasaran sekaligus. Semoga nanti ada "babak ketiga" yang lebih seru – dan semoga kali ini, mereka tidak lagi memanfaatkan nama masyarakat Tabi-Saireri sembarangan. Seperti kata orang Papua: "Jangan biarkan 'perjanjian sepuluh jari' antara Pak Marcus dan Pak Matius yang dibuat di lapangan desa itu jadi 'kertas kosong' – dan jangan biarkan nama kita jadi 'kertas amplop' yang diisi apa aja! Karena rakyat bukan cuma pengamat, tapi juga 'pemilih' yang punya hak tahu dan berpendapat – termasuk nanya ke keduanya langsung di lapangan desa sambil main gendang!"

Kontributor Akrapnews Frans  Rohrohmana 

Posting Komentar

0 Komentar