Editorial AKRAPNEWS Selera Homor : Antara Kopi dan Kontroversi, Mengurai Benang Kusut di Papua

     Oleh : Alex Kumbubuhi🙏

 
AKRAPNEWS-Jayapura//Aksi 1 Desember di Papua kembali menghangatkan suasana, bahkan mungkin lebih panas dari kopi robusta yang baru diseduh. Bendera Bintang Kejora berkibar, dan sontak, jagat media sosial pun bergejolak. Reaksi beragam bermunculan, mulai dari yang serius mengutuk sampai yang cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, "Duh, Papua lagi, Papua lagi..."
 
Oke, mari kita tarik napas dalam-dalam, hirup aroma kopi (atau teh, bagi yang tidak suka kopi), dan coba berpikir jernih. Bendera Bintang Kejora, bagi sebagian masyarakat Papua, bukan sekadar kain dengan gambar yang unik. Ia adalah simbol sejarah, identitas, dan segudang harapan yang mungkin belum sepenuhnya terwujud. Menyikapinya dengan emosi hanya akan membuat masalah semakin runyam, seperti benang kusut yang ditarik paksa.
 
Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa bendera yang sama, bagi sebagian masyarakat Indonesia lainnya, justru menimbulkan rasa was-was. Ada yang melihatnya sebagai provokasi, bahkan ancaman terhadap keutuhan NKRI. Ibarat melihat mantan pacar jalan dengan orang lain, rasanya campur aduk: sakit hati, cemburu, dan sedikit penasaran.
 
Lantas, bagaimana yaa? Apakah kita harus terus berdebat kusir sampai dunia  kiamat? Tentu tidak!
 
Pertama, mari kita belajar menjadi pendengar yang baik. Dengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh masyarakat Papua. Siapa tahu, di balik aksi mereka, ada cerita yang selama ini belum kita dengar. Ibarat mencari harta karun, kita harus menggali lebih dalam untuk menemukan nilai yang sebenarnya.
 
Kedua, mari kita evaluasi diri. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk Papua? Apakah pembangunan sudah merata? Apakah keadilan sudah ditegakkan? Jangan-jangan, kita selama ini cuma sibuk pencitraan, sementara masyarakat Papua masih berjuang untuk mendapatkan hak-haknya.
 
Ketiga, mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan biarkan provokasi dan ujaran kebencian merusak jalinan persaudaraan kita. Ingat, Indonesia ini seperti keluarga besar. Kadang ada cekcok, kadang ada salah paham, tapi pada akhirnya, kita tetap satu keluarga.
 
Menanggapi isu Papua memang butuh kesabaran ekstra. Ibarat merawat tanaman, kita harus menyiramnya dengan air kasih sayang, memupuknya dengan keadilan, dan menjaganya dari hama prasangka. Dengan begitu, kita bisa berharap Papua akan tumbuh subur dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia.
 
Jadi, mari kita tinggalkan emosi, perbanyak diskusi, dan jangan lupa, selalu sediakan kopi (atau teh) untuk menemani kita berpikir jernih. Karena, seperti kata pepatah, "Otak yang jernih menghasilkan solusi yang brilian." Syowi🙏

Kontributor. Alex Kumbubuhi

Posting Komentar

0 Komentar