Oleh: Redaksi Akrapnews Papua
( Sebuah Refleksi Kisah Port Numbay, 2016)
PORT NUMBAY (JAYAPURA), PAPUA – Menyimak sebuah Kisah di Kota Port Numbay, Tahun 2016 silam terjadi sebuah pertemuan gagasan yang meninggalkan jejak mendalam, Saat itu, dimana Kang Dedi Mulyadi (KDM), tokoh yang dikenal dengan pendekatan humanisnya, hadir dan melontarkan sebuah kalimat sederhana namun bernyawa: "Papua adalah Surga yang Harus Dijaga Bersama." Ungkapan ini disampaikan BTM kepada awak Media Akrapnews di kediamanya, Sabtu, 30 Mei 2026|17:00 Wit.
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia adalah pengakuan akan keindahan Papua yang tak hanya terletak pada puncak-puncak gunung yang menjulang, hijaunya hutan tropis, atau birunya laut yang membentang. Lebih dari itu, Papua indah karena Tuhan menitipkan kehidupan di atas tanah ini. Papua adalah Honai, rumah bagi ribuan suku, bahasa, budaya, dan kearifan lokal yang tak ditemukan di belahan bumi lain.
Namun, hampir satu dekade kemudian, pertanyaan kritis muncul dari sahabat lama, Kang Deddy Mulyadi (KDM), yang akrab disapa BTM (Bumi, Tanah, dan Manusia): "Apakah hari ini kita masih melihat Papua sebagai Surga?"
Dalam surat terbuka dan untaian lirik lagunya, Benhur Tommy Mano(BTM) mengingatkan bahwa Tanah Papua bukan sekadar aset pembangunan, infrastruktur, atau sumber daya alam yang bisa diekstraksi tanpa batas. Bagi generasi Papua, tanah ini adalah "MAMA".
"Tanah Papua adalah Mama yang memberi kehidupan. Ia menyusui, mengasuh, dan melindungi generasinya. Jika Mama sakit, anak-anaknya akan kelaparan. Jika Mama rusak, masa depan kami hancur," ungkap BTM dalam narasinya yang menyentuh hati.
Pernyataan ini menjadi kritik halus namun tegas terhadap pola pembangunan yang sering kali mengabaikan aspek ekologis dan sosiologis; Ketika hutan ditebang habis demi kepentingan ekonomi sesaat, ketika hak-hak masyarakat adat diabaikan demi proyek raksasa, maka sesungguhnya kita sedang melukai "Mama" tersebut.
Bagi BTM, konsep "Surga di Tanah Papua" bukanlah sekadar judul lagu atau slogan kampanye. Ia adalah panggilan moral yang mendesak untuk diwujudkan dalam tindakan nyata. Ada lima pilar utama yang harus dijaga bersama ugkap BTM;
1. Menjaga Hutan sebagai Mama, Dimana Hutan adalah paru-paru dan sumber kehidupan. Merusak hutan sama dengan membunuh ibu kandung sendiri.
2. Menghormati Hak-Hak Masyarakat Adat, Tanah ulayat adalah identitas. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak adat adalah bentuk keadilan tertinggi.
3. Membangun Pendidikan dan Kesehatan yang Bermartabat, Orang Papua butuh akses yang setara dan berkualitas, bukan sekadar bangunan sekolah atau puskesmas tanpa guru dan dokter yang kompeten.
4. Merawat Perdamaian, Konflik hanya akan menghancurkan surga. Dialog dan kasih sayang adalah kunci keberlangsungan hidup bersama.
5. Anak Papua Sebagai Tuan di Negerinya Sendiri, Ini adalah inti dari keadilan sosial. Generasi muda Papua harus diberi ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk memimpin dan mengelola tanah leluhurnya.
Di tengah kritik konstruktif tersebut, Benhur Tommy Mano (BTM) juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kang Dedi Mulyadi (KDM). Lagu yang terinspirasi dari pertemuan mereka berdua mengandung tiga makna strategis:
* Pertama, menegaskan Papua sebagai Anugerah Tuhan yang suci.
* Kedua, membawa pesan Persaudaraan antara Indonesia dan Papua yang berbasis pada saling menghargai,
bukan dominasi.
* Ketiga, menjadi ajakan kolektif untuk menjaga Bumi, Tanah, dan Manusia (BTM) Papua agar tetap lestari.
"Keindahan Papua adalah ciptaan Tuhan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya, bukan
dihabiskan oleh generasi sekarang," tulis BTM.
Sebagai Refleksi Akhir dari Editorial ini ditutup dengan sebuah Perenungan bahwa, Papua memang indah, tetapi keindahan itu rapuh jika tidak dijaga. Pertanyaannya bukan lagi "Seindah apa Papua", melainkan "Siapa yang bersedia menjaga keindahannya";
Apakah kita masih mampu melihat Papua sebagai Surga? Atau kita telah terlena sehingga lupa bahwa Surga membutuhkan penjaga yang setia, yang mencintai tanahnya seperti seorang anak mencintai ibunya?
Terima kasih, KDM, atas pengingat di tahun 2016. Dan terima kasih, BTM, atas suara hati yang terus bergema hingga hari ini. Semoga kita semua sadar: Menjaga Papua, berarti menjaga kemanusiaan kita sendiri, Salam Damai, Salam Papua. Syowi🙏🏾
(Redaksi Akrapnews Papua)
Kontributor : Vicky Ririhena
Edit & Publish: Andi Askari Mallawa.S.Kom
0 Komentar