EDITOR AKRAPNEWS PAPUA: Jangan Biarkan Konflik Timur Tengah Jadi Provokasi SARA di Papua - Jurnalis Akrap News Papua



                                  Oleh : Frans Rohrohmana
                 Doc. Kontributor akrapnews Frans Rohrohmana
     
 
JAYAPURA, Akrap News Papua – Konflik politik terbuka  antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran meningkat tajam sejak akhir Februari 2026, ditandai dengan serangan rudal udara intensif di kawasan Teluk Persia. Konflik bersenjata  ini telah berlangsung selama lebih dari 2 minggu per pertengahan Maret 2026,
tidak boleh dijadikan sebagai bahan provokasi untuk memecah belah persatuan antarumat beragama di Papua. Hal ini ditegaskan dalam pandangan jurnalistik Akrap News Papua, Victor Ririhena, di kediamannya jln. Nuri Abepura,  mengingat wilayah ini dikenal dengan semboyan Mulia Bhinneka Tunggal Ika (Saling Menjaga, Saling Membantu) yang telah lama menjadi landasan kerukunan hidup antar umat beragama.
 
Papua memiliki komposisi masyarakat yang majemuk, dengan umat Kristen Protestan sebagai mayoritas yang hidup rukun bersama umat Islam, Katolik, dan penganut agama lain. Semboyan yang menjadi identitas bangsa Papua tersebut bukanlah sekadar slogan, melainkan praktik kehidupan yang telah membawa kedamaian dan kemajuan bagi seluruh wilayah.
 
"Dampak konflik global memang terasa hingga ke pelosok tanah kita, tetapi kita harus waspada terhadap pihak yang coba menyalahgunakan narasi perang untuk menciptakan kesalahpahaman," ujar Frans Rohrohmana (Kontributor Akrapnews-Papua) dalam analisisnya.
 
Menurut Frans bahwa, esensi konflik di Timur Tengah sangat kompleks, melibatkan sejarah, kepemilikan sumber daya, dan kepentingan geopolitik yang tidak bisa disederhanakan menjadi perpecahan antaragama. "Terkadang ada pihak yang sengaja menghubungkan konflik politik dengan identitas agama tertentu, padahal hal itu tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya," jelasnya.
 
Dalam kesempatan yang sama, diingatkan pula bahwa perayaan hari raya dari setiap agama adalah momen kebahagiaan yang harus dihargai bersama. Di Papua, telah menjadi budaya bagi masyarakat untuk saling mengunjungi dan berbagi kebahagiaan saat hari raya tiba, termasuk ketika umat Islam merayakan Lebaran dan umat Kristen merayakan Natal serta Paskah.
 
Untuk menjaga persatuan, Akrap News Papua mengajak seluruh elemen masyarakat Papua melakukan langkah-langkah konkret:
 
- Menyaring informasi dengan cermat dengan mencari sumber yang kredibel dan objektif agar tidak mudah terpengaruh oleh konten provokatif.
- Memperkuat dialog antaragama melalui forum komunikasi antara pemimpin agama dan masyarakat untuk membahas kekhawatiran bersama.
- Mengedukasi masyarakat luas bahwa konflik politik luar negeri tidak mencerminkan hubungan antarumat beragama di Indonesia dan Papua.
- Berkampanye untuk perdamaian dengan menjadikan Papua sebagai contoh wilayah yang mampu menjaga persatuan di tengah tantangan global.
 
"Bhinneka Tunggal Ika harus tetap menjadi pijakan untuk kita; 
Mari kita tunjukkan bahwa Papua adalah rumah bagi semua orang yang berbeda agama dan suku, yang saling menghormati demi masa depan yang lebih baik," pungkas Victor Ririhena.
 
 
Kontributor Akrapnewspapua: Frans Rohrohmana
Edit by : Tim Redaksi Akrap News Papua
Kontak: redaksi@akrapnewspapua.id

Posting Komentar

0 Komentar