Oleh : Vicky Ririhena
AKRAPNEWS-JAYAPURA, ||Kasus seorang bayi berusia 9 bulan, dari satu keluarga yang enggan menyebutkan namanya, yang mengalami sakit muntah-muntah, panas, dan buang air besar, hingga mengalami kondisi fisik yang lemas, dirawat di RS Kemenkes Abepura dengan fasilitas BPJS menjadi cerminan menyakitkan dari kualitas pelayanan kesehatan yang masih jauh dari harapan. Bayi yang masuk ke RS pada tanggal 28 Februari 2026 sekitar pukul 22.00 WIT ini, seharusnya mendapatkan penanganan yang teliti, tepat, dan komprehensif, namun justru mengalami pengalaman yang membuat keluarganya kecewa dan khawatir.
Kritik utama yang muncul dari kasus ini adalah kurangnya ketelitian dan profesionalisme dari pihak medis dalam menangani pasien. Setelah dirawat selama beberapa hari, pada tanggal 4 Maret 2026, bayi yang masih dalam kondisi lemas, mengalami muntah-muntah, panas, dan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan justru disuruh pulang dan menjalani berobat rawat jalan oleh dokter, hanya dengan diberikan obat anti mencret; Padahal, bayi yang rentan, perlu diagnosis yang tepat sangat bergantung pada hasil pemeriksaan laboratorium yang lengkap, terutama ketika gejala seperti muntah-muntah dan panas hadir yang bisa menandakan infeksi atau masalah kesehatan yang lebih serius. Tanpa itu, pengobatan yang diberikan bisa saja tidak tepat sasaran, bahkan berpotensi memperburuk kondisi pasien.
Pelayanan terhadap pasien seharusnya sampai sembuh betul baru disuruh pulang ke rumah; Kenyataan pahitnya, keesokan harinya pada tanggal 5 Maret 2026, bayi tersebut harus dibawa kembali ke RS Kemenkes Abepura karena kondisinya tidak membaik malah menurun, dan akhirnya disuruh untuk menjalani rawat inap kembali. Hingga saat ini, pasien bayi tersebut masih dirawat di RS Kemenkes Abepura. Hal ini menunjukkan bahwa ada celah serius dalam prosedur pelayanan medis di RS tersebut. Pihak medis seharusnya tidak hanya melihat gejala permukaan, tetapi juga melakukan pemeriksaan yang mendalam untuk mengetahui akar masalah kesehatan dari si pasien, mengingat gejala muntah-muntah , berak yang di imbangi dengan panas tubuh pada bayi tersebut membutuhkan perhatian khusus; Pemulangan pasien yang belum sembuh sepenuhnya adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab, karena dapat membahayakan nyawa pasien, terutama bayi yang daya tahan tubuhnya masih lemah.
Selain itu, pelayanan yang diberikan juga terlihat kurang optimal dalam hal perhatian serius terhadap kondisi si pasien. Bayi yang masih menangis karena sakit, mengalami muntah-muntah, panas, dan tidak nyaman seharusnya mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan perhatian yang lebih besar dari pihak medis. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa hal tersebut tidak terjadi, bahkan hingga bayi harus kembali menjalani perawatan di RS Kemenkes karena kondisi yang memburuk.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi RS Kemenkes Abepura untuk segera memperbaiki kualitas pelayanannya. Pihak manajemen harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Prosedur pelayanan medis, meningkatkan kompetensi dan ketelitian para tenaga medis, serta memastikan bahwa setiap pasien harus mendapatkan penanganan yang tepat dan profesional. Jangan biarkan kasus seperti ini terulang lagi, karena setiap pasien berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan aman.
Kita berharap bahwa RS Kemenkes Abepura dapat mengambil pelajaran dari kasus ini dan melakukan perubahan yang nyata. Pelayanan kesehatan bukan hanya sekadar memberikan obat atau perawatan, tetapi juga tentang memberikan perhatian, empati, dan tanggung jawab terhadap kesehatan dan keselamatan si pasien. Sebab hanya dengan demikian, RS Kemenkes Abepura dapat kembali mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.Syowi🙏
Kontributor : Vicky Ririhena
Edit by: Andy A Mallawa.
0 Komentar