Judul di atas, menjadi cermin pahit bagi setiap proyek konstruksi jalan di Papua yang baru-baru ini kembali menghadapi bencana longsor, ("Kelihatan Kuat, Tapi Bisa Runtuh dari Dalam")
Oleh: Victor Ririhena
AKRAPNEWS, JAYAPURA ||" Ruas Jalan Ring Road Jayapura (Januari 2025), Trans Papua Jayapura-Wamena (Februari 2026), dan El Elim-Wamena (Maret 2026) adalah bukti nyata bahwa infrastruktur yang tampak kokoh ternyata menyimpan risiko besar akibat kekurangan dalam perencanaan dan pelaksanaan".
FAKTOR ALAM BUKANLAH SATU-SATUNYA PENYEBAB
Tak dapat dipungkiri bahwa kondisi alam Papua yang ekstrem curah hujan tinggi dan tanah labil menjadi pemicu longsor. Seperti kasus di Kabupaten Yalimo pada Februari 2026, enam titik longsor memutus akses jalan Trans Papua dan menimbun beberapa kendaraan. Meskipun cuaca menjadi pemicu utama, efektivitas proyek peningkatan jalan yang sedang berjalan dalam menangani risiko alam perlu dipertanyakan.
Namun, faktor manusia tidak bisa diabaikan; Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Papua, Amos Wenda, mengakui bahwa longsor pada Ruas Ring Road Jayapura disebabkan oleh kesalahan teknis perencanaan awal, seperti penggunaan besi tulangan berdiameter hanya 8 milimeter yang tidak memadai. Belum lagi minimnya kajian geoteknikal mendalam terkait struktur lereng dan jenis tanah sebelum pembangunan dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah bukan hanya berasal dari luar, melainkan juga terdapat "kerusakan" yang tumbuh dari dalam proyek itu sendiri.
TANTANGAN ANGGARAN DAN PERLUNYA STANDARISASI YANG KETAT.
Pemotongan Dana Alokasi Umum (DAU) Provinsi Papua sebesar Rp180 miliar berdampak langsung pada anggaran pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan. Estimasi biaya perbaikan Ruas Ring Road Jayapura di bawah Rp5 miliar memang terlihat terjangkau, namun perlu dipastikan bahwa dana tersebut digunakan untuk material yang sesuai spesifikasi teknis, seperti penggantian besi tulangan menjadi diameter 16 milimeter dan tidak ada lagi praktik pemotongan kualitas demi menghemat biaya.
Selain itu, upaya alternatif seperti rencana pembangunan jalan layang ruas Kotaraja-Waena yang diusulkan sebagai solusi permasalahan kemacetan perlu diimbangi dengan kajian kelayakan teknis dan lingkungan yang matang. Pembangunan jalan layang harus diantisipasi agar tidak menjadi proyek baru yang menyimpan risiko serupa akibat kurangnya perencanaan yang komprehensif.
PELAJARAN YANG HARUS DIAMBIL: TIDAK BOLEH ADA KOMPROMI PADA KUALITAS.
Jalan merupakan urat nadi ekonomi dan sosial bagi masyarakat Papua. Kerusakan pada infrastruktur jalan tidak hanya menghambat distribusi barang dan layanan publik, tetapi juga mengancam keselamatan hidup warga. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan pusat harus mengambil langkah tegas dengan melakukan empat hal berikut:
1. Melaksanakan kajian geoteknikal mendalam sebelum setiap proyek jalan dimulai, terutama di wilayah yang memiliki potensi tinggi rawan longsor.
2. Menetapkan standar konstruksi jalan yang ketat sesuai peraturan nasional dan mengawasi pelaksanaannya secara tidak kompromi.
3. Memastikan alokasi anggaran yang cukup serta pengelolaannya yang transparan, termasuk mencari sumber dana tambahan jika diperlukan.
4. Membangun sistem pemantauan rutin terhadap kondisi struktur jalan dan stabilitas lereng sekitarnya untuk mendeteksi potensi risiko sejak dini.
Infrastruktur yang kuat bukan hanya tentang tampilan luar yang kokoh, tetapi juga terletak pada kekuatan dari dalam perencanaan yang matang, pelaksanaan yang baik, dan komitmen yang tegas untuk melayani kepentingan publik.
Papua layak mendapatkan jalan yang benar-benar dapat dipercaya, bukan proyek yang hanya "kelihatan kuat" namun mudah runtuh. Syowi🙏
Kontributor: Victor Ririhena
Edit by; Andi A Mallawa.
0 Komentar