AKRAPNEWS-PAPUA, Jejak Iman di Tanah Sentani, Membaca Sejarah Pembukaan Pelayanan GPI Elim Abepura


Oleh: Redaksi Akrapnews Papua
(Berdasarkan Narasi Sejarah oleh: Dr. Drs. Marthen Timisela, M.Si)

   Pembukaan pelayanan di Sentani, Kabupaten Jayapura.

JAYAPURA – Sejarah pelayanan gereja tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia selalu bermula dari panggilan iman yang mendalam, pengorbanan yang tulus, dan ketaatan total untuk memberitakan Injil di tengah denyut nadi kehidupan umat. Bagi Gereja Protestan Indonesia (GPI) Jemaat Elim Abepura, sebuah babak baru dalam perjalanan rohani telah tercatatkan dengan tinta emas melalui pembukaan pelayanan di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Langkah strategis ini bukan sekadar ekspansi geografis atau perluasan wilayah administratif belaka. Lebih dari itu, kehadiran GPI Elim Abepura di Sentani merupakan respons spiritual terhadap karya Tuhan yang menuntun gereja untuk hadir lebih dekat, menyentuh, dan melayani umat-Nya di wilayah tersebut.

Keberhasilan membuka lembaran baru pelayanan ini tidak lepas dari sinergi dan dukungan penuh pimpinan gereja, baik di tingkat Klasis maupun Jemaat. Ini adalah bukti nyata bahwa pelayanan adalah tanggung jawab bersama.

Momen bersejarah ini dihadiri dan didukung langsung oleh Ketua Klasis GPI Papua Jayapura, Pdt. John Leleuly, S.Th, serta Ketua Majelis GPI Jemaat Elim Jayapura, Pdt. Alice I. Salhuteru, M.Si. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai formalitas protokoler, melainkan sebagai wujud konkret tanggung jawab gereja dalam memperluas cakupan pelayanan, intensifikasi penggembalaan, dan penguatan kesaksian iman bagi jemaat di wilayah Sentani. Kolaborasi antara pimpinan klasis dan majelis jemaat ini menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan pelayanan di tanah baru.

Dalam catatan sejarah yang dituturkan oleh Dr. Drs. Marthen Timisela, M.Si, ada dua momen simbolis yang sangat menyentuh dan sarat makna teologis saat ibadah pembukaan berlangsung di Gereja Eliazer Sentani.

Pertama, tindakan Pnt. Dr. Drs. Marthen Timisela, M.Si yang berdiri di depan pintu gereja dengan penuh kesiapan. Ia bertugas membuka pintu gereja untuk menyambut kedatangan para pendeta, majelis, dan umat. Secara harfiah, ini adalah aksi penyambutan. Namun secara spiritual, tindakan sederhana ini menjadi simbol keterbukaan hati dan tangan gereja dalam menyongsong karya pelayanan baru. Gereja tidak menutup diri, tetapi membuka pintunya lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin menemukan kasih Kristus.

Kedua, dentangan lonceng gereja yang dibunyikan oleh almarhum Bapak Edo Lekatompessy. Suara lonceng itu bukan sekadar sinyal waktu atau panggilan rutin. Di momen tersebut, dentangannya menjadi tanda sakral yang menggetarkan jiwa, mengabarkan kepada jemaat dan masyarakat luas bahwa sebuah era baru pelayanan telah resmi dimulai. Bagi keluarga dan jemaat, suara lonceng almarhum Edo Lekatompessy juga menjadi kenangan abadi yang menghubungkan masa lalu dengan harapan masa depan gereja.

Pembukaan pelayanan di Sentani ditandai dengan semangat kebersamaan yang membara. Para pelayan, majelis, dan jemaat berkumpul dengan satu hati, membuka lembaran baru sebagai wujud panggilan gereja untuk melayani (diakonia), bersaksi (marturia), dan membangun persekutuan (koinonia).

Kehadiran GPI Elim Abepura di Sentani diharapkan menjadi tonggak sejarah penting yang membawa berkat bagi banyak orang. Ini adalah awal dari karya penggembalaan baru yang akan terus bertumbuh seiring waktu. Dengan landasan doa, kerja keras, dan kesetiaan jemaat, pelayanan ini menjadi saksi hidup bahwa gereja adalah organisme yang dinamis, terus bergerak mengikuti kehendak Tuhan, menghadirkan terang Injil, serta membangun kehidupan iman di tengah masyarakat Sentani.

Sejarah ini akan selalu dikenang sebagai bagian integral dari perjalanan GPI Elim Abepura. Ketika kelak generasi berikutnya menoleh ke belakang, mereka akan melihat bagaimana sebuah langkah iman diambil dengan keberanian. Mereka akan mengingat kolaborasi pimpinan gereja di bawah kepemimpinan Pdt. John Leleuly, S.Th dan Pdt. Alice I. Salhuteru, M.Si. Mereka akan mengenang ketulusan Pnt. Dr. Drs. Marthen Timisela, M.Si yang membuka pintu gereja, dan gema lonceng oleh almarhum Edo Lekatompessy yang menandai dimulainya ibadah perdana saat itu. Semua ini dilakukan demi satu tujuan utama: kemuliaan Tuhan dan pertumbuhan gereja-Nya di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Melihat jejak sejarah ini, kita menaruh harapan besar kepada generasi muda GPI Papua saat ini. Kiranya semangat para pendahulu ini dapat menjadi inspirasi untuk terus berani membuka pos-pos pelayanan baru (Pospel) di wilayah-wilayah yang belum terjangkau. Demi kemajuan GPI Papua, diperlukan keberanian untuk memperluas basis pelayanan di seluruh penjuru Bumi Cendrawasih, Papua.

Dengan tetap berpegang pada iman dan tradisi pelayanan yang luhur, generasi sekarang dipanggil untuk menjadi agen perubahan dan pembawa damai sejahtera di setiap sudut tanah Papua. Biarlah api pelayanan yang dinyalakan di Sentani ini menyebar luas, sehingga GPI Papua semakin kokoh, relevan, dan menjadi berkat bagi seluruh masyarakat di bumi Cendrawasih.

Kiranya pelayanan ini terus menjadi saluran berkat, memperkuat iman umat, dan menjadi terang di tengah masyarakat Sentani. Selamat melanjutkan perjuangan iman, GPI Papua Jemaat Elim Abepura di Sentani.Shalom🙏

Redaksi Akrapnews Papua
 
(Tentang Penulis Narasi):
Dr. Drs. Marthen Timisela, M.Si. adalah seorang tokoh gereja dan akademisi yang aktif mendokumentasikan sejarah pelayanan gereja, khususnya dalam konteks GPI Papua.

Posting Komentar

0 Komentar