✍️ Oleh: Redaksi Akrap News | Date: 29 MEI 2026
JAYAPURA, PAPUA - Langkah kaki Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, beserta rombongan elit kepala daerah dari Provinsi Jawa Barat, mendarat di tanah Cenderawasih bukan sekadar untuk silaturahmi politik atau kunjungan seremonial belaka. Kedatangan Dedi Mulyadi yang didampingi langsung oleh Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein (akrab disapa Om Zein), Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian, serta lima Bupati dan satu Wali Kota lainnya dari Jawa Barat, memiliki bobot makna strategis yang dalam.
Pose Bersama Heiner Marandof ( Ketua Tim Kerja Garuda Nusantara Papua) dengan Bupati Purwakarta ( Saipul Bahri Binzain) Jawa Barat.
Tujuan utama kunjungan delegasi Jawa Barat ini adalah untuk menjadi pembicara kunci sekaligus saksi sejarah dalam pembukaan Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) III Tahun 2026. Bertempat di Papua Youth Creative Hub (PYCH), Abepura, Jayapura, pada Jumat (29/5/2026), forum tahunan bergengsi, kali ini mengangkat tema yang sangat mendasar dan revolusioner, “Inovasi Pembangunan Papua Berbasis Etnosains: Analisis Komprehensif atas Wacana, Aktor, dan Masa Depan Pembangunan Papua dalam Kerangka Kearifan Lokal”.
Dalam forum yang dihadiri para pemimpin adat, tokoh agama, akademisi, birokrat, hingga aktivis masyarakat sipil se-Tanah Papua ini, Dedi Mulyadi tidak bicara sebagai pejabat tinggi negara semata, melainkan berbicara sebagai pemimpin daerah yang memiliki pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman dan pembangunan skala besar. Dan pesan utamanya? Sebuah peringatan sekaligus arahan tajam yang kini menjadi sorotan utama publik: Berhentilah membangun Papua dengan pola pikir luar yang menghapus jati diri lokal.
Pose Bersama Heiner Marandof ( Ketua Tim Kerja Garuda Nusantara Papua) dengan salah satu Walikota Jawa Barat.
Dalam pemaparannya yang memancing tepuk tangan panjang dari hadirin, Dedi Mulyadi menegaskan posisinya secara tegas. Pembangunan infrastruktur, ekonomi, dan fasilitas di Papua memang harus dipercepat dan ditingkatkan kualitasnya. Namun, ada garis merah yang tidak boleh dilanggar: Pembangunan tersebut wajib berlandaskan budaya, kelestarian alam, dan penghormatan mutlak terhadap kearifan lokal masyarakat adat.
Mama Dolly Yakadewa pose bersama Vicky Ririhena ( kontributor Akrapnews-Papua)
Kalimat kunci yang terlontar dari mulut mantan Bupati Purwakarta ini kini menjadi sorotan utama; “Papua adalah surga terakhir Indonesia. Jangan sampai pembangunan justru membuat orang Papua menjadi asing di tanahnya sendiri.”
Pernyataan ini bukan retorika kosong. Ini adalah kritik jujur terhadap pola pembangunan yang selama ini kerap diterapkan, di mana standar nasional seringkali dipaksakan mentah-mentah ke wilayah Papua tanpa adaptasi. Akibatnya, sering kali muncul wajah kota yang modern namun tidak memiliki jiwa budaya, ekonomi yang tumbuh namun justru memarginalkan pemilik tanah asli, dan kemajuan yang dirasakan pihak luar, sementara warga lokal hanya menjadi penonton.
Menurut Dedi, solusinya terletak pada desain pembangunan yang cerdas. Ia mengusulkan tiga pilar utama;
Pertama, arsitektur dan pembangunan fisik harus tetap mempertahankan ciri khas lokal. Bangunan tidak boleh seragam dan kehilangan identitas Papua.
Kedua, penggunaan material alam dan ramah lingkungan harus diprioritaskan, sejalan dengan prinsip hidup orang asli Papua yang menjaga alam sebagai bagian dari diri sendiri.
Ketiga, dan yang paling krusial, ekonomi masyarakat adat harus diperkuat dan dilindungi. Di tengah derasnya arus investasi modal besar yang masuk, warga lokal tidak boleh dibiarkan kalah bersaing atau hanya menjadi penonton di tanah leluhurnya sendiri.
“Pendekatan pembangunan berbasis budaya menjadi penting, agar kemajuan ekonomi tidak meminggirkan masyarakat adat Papua sebagai pemilik tanah dan ruang hidup,” tegas Dedi Mulyadi.
Secara substansi, Konferensi APS III ini tidak hanya membahas aspek fisik, tetapi menggali akar masalah dari berbagai disiplin ilmu. Agenda forum mencakup evaluasi mendalam terkait implementasi Otonomi Khusus (Otsus), dinamika Daerah Otonomi Baru (DOB), hingga pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kini mulai diarahkan menggunakan pendekatan Etnosains, Antropologi, Sosiologi, dan Teologi. Artinya: Ilmu pengetahuan modern harus bersinergi dengan pengetahuan lokal, bukan menggantikannya.
Kehadiran Dedi Mulyadi tidak sendirian. Ia didampingi barisan kepala daerah Jawa Barat yang memiliki rekam jejak kuat, Saepul Bahri Binzein (Om Zein), Mohammad Wahyu Ferdian, serta deretan Bupati dan Wali Kota lainnya. Kehadiran kolektif ini memiliki makna politis yang sangat kuat. Ini bukan sekadar kunjungan antar-pejabat, melainkan bentuk solidaritas antar-daerah.
Provinsi Jawa Barat, sebagai salah satu provinsi terbesar dan termaju di Indonesia, hadir bukan untuk menggurui atau memberikan perintah. Pesan yang ingin disampaikan jelas: "Kami datang membawa pengalaman, bukan untuk meniru. Kami datang sebagai saudara, untuk mendengar, belajar, dan menguatkan."
Peran APS (Analisis Papua Strategis / Aliansi Pemimpin Seluruh Papua) di bawah kepemimpinan Laus Deo Calvin Rumayom, dalam konteks ini, menjadi sangat vital. Organisasi ini berfungsi sebagai wadah pemersatu, pemikir strategis, dan mitra kritis bagi pemerintah. Melalui konferensi ini, APS sedang menjalankan fungsinya: Merumuskan masa depan Papua dari perspektif orang Papua sendiri, didukung dukungan dan persahabatan dari kekuatan nasional seperti Dedi Mulyadi dan kawan-kawan
Di luar ruang rapat megah, momen paling menyentuh hati justru terjadi di area pameran UMKM di halaman PYCH, Usai konferensi, Dedi Mulyadi tidak langsung bergegas pergi, Ia memilih berjalan kaki menyusuri deretan lapak-lapak kecil yang dikelola langsung oleh Mama-mama Papua dan pemuda lokal, Tanpa jarak, tanpa protokol berlebihan, Gubernur ini berhenti, menyapa, berbincang, dan membeli langsung produk-produk kerajinan tangan asli Papua.
Keranjang belinya terisi noken, patung ukiran kayu, alat musik tifa, kain batik bermotif khas, hingga dompet kulit kayu. Tindakan sederhana ini ternyata menjadi obat semangat bagi para pelaku usaha mikro.
Salah satu pedagang, Mama Tresya Ramela, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Baginya, perhatian seorang pejabat tinggi yang rela menunduk melihat barang dagangan yang bahkan diletakkan di bawah meja, adalah penghormatan tertinggi.
“Kami sangat berterima kasih karena sudah mampir. Meskipun kami tidak taruh di atas meja, tapi dia bisa lihat. Terima kasih banyak karena sudah beli kami punya aksesoris,” ungkap Mama Tresya dengan mata berkaca-kaca.
Sentuhan personal ini dikuatkan oleh Andriana Agavitas Pincesiam, Bendahara Yayasan Onomi Inspire Papua Global Foundation yang membina sekitar delapan pelaku UMKM di lokasi tersebut. Ia berharap, di masa depan, kunjungan tokoh penting seperti ini bisa memberikan waktu lebih luang agar seluruh produk, besar maupun kecil, bisa diperhatikan. Namun, kehadiran dan tindakan nyata Dedi Mulyadi hari ini sudah menjadi pesan jelas bahwa, Ekonomi rakyat kecil adalah prioritas.
Kunjungan Dedi Mulyadi, rombongan Jawa Barat, dan terselenggaranya Konferensi APS III 2026 menjadi penanda titik balik penting dalam sejarah pembangunan Papua. Ada pergeseran paradigma yang mulai terlihat:
Dulu, Papua dibangun dengan pola Jakarta atau pola Barat.
Sekarang, Papua mulai dibangun dengan pola Papua, berbasis nilai, budaya, dan alamnya sendiri.
Ini sejalan dengan semangat Otonomi Khusus yang hakikatnya adalah: Papua untuk Orang Papua, dibangun menurut cara dan keinginan Orang Papua.
Pesan Dedi Mulyadi, "Jangan jadikan orang Papua asing di tanah sendiri", kini bukan lagi sekadar kutipan berita. Ia telah menjadi janji politik, sekaligus tantangan bagi seluruh pemimpin, pengusaha, dan pembuat kebijakan di Tanah Cenderawasih.
Masa depan Papua cerah terbentang, asalkan kita ingat satu hal: Kita boleh melaju cepat mengejar modernitas, tapi kita tidak boleh lupa dari mana kita berasal.
Akrap News melihat ini sebagai awal yang baik. Sebuah persaudaraan yang diperkuat, sebuah visi yang diperjelas, dan sebuah harapan yang dibangkitkan kembali.
Selamat berjuang untuk Papua yang Maju, Modern, namun Tetap Papua. Syowi🩵🔥🇵🇬
📲 AKRAP NEWS | Jujur, Lantang, dan Berdikari
*Kontributor : Vicky Ririhena
*Edit & Publikasi by : Alexander Reniban.
0 Komentar