EDITORIAL AKRAPNEWS : MEMBEDAH KRITIK, MERAJUT KEMBALI SEJARAH, SEBUAH REFLEKSI DARI DIALOG PAPUA


   Oleh: Frans Rohromana ( Redaksi Akrapnews Papua )
      GB Frans Rohrohmana(Kontributor Akrapnews-Papua)

Video diskusi yang mempertemukan filsuf Rocky Gerung, dalam ungahan  Instagram, Ani Jelimo@ dengan  salah satu anak muda Papua tahun 2024 bukan sekadar debat biasa. Ini adalah suara hati yang berbicara tentang bagaimana sebuah bangsa seharusnya memperlakukan "ingatan kolektif" dan hakikat dari kritik itu sendiri.
 
Kritik Itu Membongkar, Bukan Membangun
 
Kalimat pembuka dari pemuda Papua itu benar-benar menohok: "Kritik itu membongkar, bukan membangun."
 
Di tengah arus utama yang sering menuntut kritik harus "solutif" atau "membangun", pandangan ini hadir dengan kejujuran yang mentah. Bagi masyarakat yang merasa sejarahnya diputarbalikkan, fungsi kritik yang pertama adalah membongkar.
 
Sebelum mencoba membangun sesuatu yang baru, tatanan lama yang penuh dengan kepalsuan harus dibongkar habis terlebih dahulu. Tanpa pelurusan sejarah dan pengakuan atas "kejahatan masa lalu", semua pembangunan fisik—entah itu jalan aspal, bandara, atau gedung megah—hanyalah perban di atas luka yang masih bernanah.
 
Bukan Cuma Infrastruktur, Tapi Jati Diri
 
Ada kenyataan pahit yang harus dilihat bahwa Sementara pihak lain sibuk "menggali kekayaan" di bumi Papua, orang asli Papua justru sibuk "membongkar kejahatan" dan ketidakadilan sejarah. Ini adalah dikotomi yang menyedihkan tapi nyata.
 
Rocky Gerung menegaskan, hak untuk mendefinisikan sejarah dan jati diri sendiri adalah hak asasi yang paling dasar. Ada dua hal penting yang menjadi sorotan:
 
1. Hak Menentukan Nasib Sendiri: Penghormatan terhadap identitas dan martabat jauh lebih berharga daripada sekadar pemekaran wilayah atau bantuan materi yang seringkali hanya jadi "gula-gula".
2. Kedaulatan Pikiran: Negara harus hadir menjamin setiap suku dan bangsa bisa berpikir dan bicara jernih, tanpa didikte, apalagi dibohongi dengan data statistik yang tidak masuk akal.
 
Ketahanan Bangsa yang Rapuh
 
Rocky juga mengingatkan, nasionalisme bukan cuma slogan "Harga Mati". Jika kedaulatan hanya dipahami secara fisik dan teritorial saja, tanpa diisi dengan keadilan dan kejujuran sejarah, maka bangsa ini akan sangat rapuh menghadapi goncangan zaman.
 
Oleh sebab itu, Papua harus dilihat bukan sebagai objek pembangunan semata, tapi sebagai subjek sejarah. Indonesia yang besar tidak boleh takut atau alergi untuk "membongkar" kebenaran.
 
Sebab, hanya di atas fondasi kejujuran itulah, kita bisa benar-benar merajut kembali masa depan yang damai dan bermartabat.syowi🙏
 
Kontributor : Frans Rohrohmana
Edit by: Victor Ririhena (Redaksi Akrapnews-Papua)

Posting Komentar

0 Komentar