EDITORIAL AKRAPNEWS-PAPUA: Di Balik Layar "Pesta Babi" Suara Kritis Anggota NasDem Papua, Kota Jayapura Bongkar Rekayasa Oligarki.



Oleh: Redaksi Akrapnews Papua
(Merangkum Pernyataan Sdr. Apus Rumere,  Aktivis & Anggota Partai NasDem Papua)

     (Apus  Rumere Aktivis & Anggota Partai NasDem Papua)


JAYAPURA, PAPUA – Gelombang kontroversi seputar dokumenter "Pesta Babi" tidak hanya sekadar perdebatan estetika atau hukum, melainkan telah menjelma menjadi medan tempur narasi yang lebih besar. Di tengah hiruk-pikuk tuduhan "melawan negara" yang disematkan kepada para pembuat film dan tokoh seperti Mama Yasinta, muncul suara lantang dari Sdr. Apus Rumere, seorang aktivis sosial sekaligus anggota Partai NasDem di Papua, kepada Redaksi Akrapnews-Papua di Ruang kerja Redaksi, (Selasa, 26 Mei 2026|17:00 wit).

Melalui pernyataannya, Apus Rumere membongkar apa yang ia sebut sebagai "rekayasa terstruktur" oleh kalangan oligarki. Posisinya sebagai bagian dari partai politik nasional memberikan perspektif unik: sebuah kritik internal yang menyoroti kegagalan negara dalam melindungi warganya dari manipulasi narasi kekuasaan.

Inti dari kritik Apus Rumere terletak pada dugaan adanya unsur paksaan dan manipulasi cerita yang dialami oleh Mama Yasinta dan tim dokumenter. Menurutnya, ada upaya sistematis dari oknum-oknum tertentu untuk "memainkan isu" atau menciptakan bola panas. Tujuannya jelas: menjebak rakyat jelata, khususnya Orang Asli Papua (OAP), dalam kebingungan dan ketakutan.

"Terlihat jelas ada unsur paksaan... mereka mencoba memainkan isu alias bikin bola panas untuk menjebak rakyat jelata," tegas Apus. Ia menilai bahwa narasi yang dibangun oleh pihak penguasa atau oligarki sengaja diputarbalikkan untuk mengaburkan fakta asli di lapangan. Dalam pandangan ini, Mama Yasinta bukan pelaku kriminal, melainkan korban dari mesin propaganda yang dirancang untuk mendiskreditkan suara-suara kritis dari akar rumput.

Apus Rumere menggunakan istilah yang kuat: "Siluman Oligarki". Istilah ini menggambarkan aktor-aktor tak terlihat yang beroperasi di balik layar, memanfaatkan celah kebutuhan, kekurangan, dan ketakutan masyarakat Papua. Menurut Apus, kelompok terstruktur ini telah mengagendaikan langkah-langkah untuk membodohi rakyat melalui propaganda masif.

"Mereka mencari kesempatan lewat kekurangan dan kebutuhan serta ketakutan kita rakyat, terlebih lagi kita yang OAP," ujarnya. Kritik ini menyoroti kerentanan masyarakat Papua terhadap eksploitasi politik, di mana isu-isu sensitif seperti identitas dan kedaulatan sering dijadikan alat untuk memecah belah atau menakut-nakuti, alih-alih diselesaikan dengan dialog substantif.

Apus juga menuding bahwa serangan balik terhadap dokumenter "Pesta Babi" adalah upaya putus asa dari oligarki untuk memperbaiki citra mereka yang sudah tercoreng di mata nasional maupun internasional. Dengan menebar hoaks dan narasi tandingan melalui media sosial, mereka berharap dapat meraih kembali simpati publik yang kian menipis.

Poin paling menggugah dari pernyataan Apus Rumere adalah seruan kesadaran kolektif: "Maaf.. kami sudah pintar.. kami tidak mau bodoh terus. Dan cuma orang bodoh saja yang percaya mereka (Oligarki)."

Ini adalah deklarasi kematangan politik rakyat Papua. Apus menolak label victimization (korbanisasi) pasif. Sebaliknya, ia mengajak masyarakat untuk bersikap kritis, tidak mudah termakan provokasi murahan, dan mampu membedakan antara kebenaran faktual dengan rekayasa opini. Ia menyerukan agar keluarga Mama Yasinta dan pihak-pihak lain yang "diperalat" segera sadar dan keluar dari jebakan tersebut.

Sebagai anggota Partai NasDem, Apus secara implisit juga menagih janji-janji reformasi dan keadilan yang sering digaungkan dalam diskursus politik nasional, namun seringkali macet dalam implementasinya di tingkat lokal 

Di akhir pernyataannya, Apus Rumere menutup dengan harapan akan tegaknya nilai-nilai Pancasila secara nyata. Bagi banyak aktivis Papua, Pancasila sering kali hanya menjadi slogan kosong di atas kertas, sementara dalam praktiknya, ketidakadilan dan represi masih kerap terjadi.

"Ayo... Jangan takut pada mereka siluman-siluman oligarki sadis dorang... Mari berjuang terus sampai PANCASILA benar-benar nyata di negara yang sama-sama kita cintai ini," seru Apus.

Pernyataan Sdr. Apus Rumere, selaku anggota Partai NasDem Papua, mengingatkan kita bahwa konflik narasi seputar "Pesta Babi" adalah cermin dari krisis kepercayaan antara rakyat dan struktur kekuasaan. Jika negara ingin dicintai dan dihormati, maka negara harus hadir sebagai pelindung kebenaran, bukan sebagai alat bagi oligarki untuk memanipulasi realitas.

Rakyat Papua, sebagaimana ditegaskan Apus, telah bangkit dari keterbodohan. Mereka menuntut transparansi, keadilan bagi Mama Yasinta, dan penghormatan terhadap karya-karya yang menyuarakan kebenaran, sepahit apapun itu. Kini, bola ada di tangan penguasa: apakah akan terus bermain dalam kegelapan "siluman", atau berani berdiri di bawah terang keadilan?Syowi🙏

(Redaksi Akrapnews Papua)
(Merangkum Pernyataan Sdr. Apus Rumere, Aktivis & Anggota Partai NasDem Papua)✍️
Kontributor : Victor Ririhena.
Edit & Publiksi: Andi Askari Mallawa.S.Kom

Posting Komentar

0 Komentar