Gambar Terjadinya konflik atau perang suku di Distrik Woma, Kabupaten Jayawijaya.
JAYAPURA – Kabar kembali terjadinya konflik atau perang suku di Distrik Woma, Kabupaten Jayawijaya, menjadi luka baru yang mendalam bagi hati seluruh orang Papua. Di tengah upaya kita bersama untuk membangun martabat dan kesejahteraan di Tanah Papua, kekerasan antar-kelompok justru terus menggerus potensi terbesar kita: manusia Papua itu sendiri.
Melalui ruang editorial ini, Akrapnews-Papua menyampaikan himbauan keras dan mendesak kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya para Kepala Suku (Ondoafi atau Kepala Adat) dan pemuda di Distrik Woma serta wilayah sekitarnya: Hentikan segera pertikaian ini.
~~~~☆Kita Kehilangan Sesama Anak Bangsa☆~~~~~~~
Fakta demografis menunjukkan bahwa populasi penduduk asli Papua dari waktu ke waktu mengalami tekanan, baik akibat penyakit, migrasi, maupun yang paling menyedihkan akibat kekerasan internal seperti perang suku. Setiap nyawa anak Papua yang melayang dalam konflik saudara adalah kerugian nasional yang tak ternilai.
Perang suku bukan lagi soal kejantanan atau pembelaan harga diri semata. Dalam konteks modern, perang suku adalah bunuh diri kolektif. Kita saling menghabisi saudara sebangsa dan setanah air, sementara tantangan eksternal terhadap eksistensi kita semakin besar. Tidak ada pemenang dalam perang suku; yang ada hanyalah ibu-ibu yang menangis kehilangan anak, istri yang menjadi janda, dan generasi muda yang putus sekolah karena ketakutan.
~~☆Mengubah Paradigma: Dari Medan Perang ke Arena Prestasi☆~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sudah saatnya kita melakukan transformasi budaya secara bijak. Kekuatan fisik dan keberanian orang Papua yang selama ini sering disalahartikan dalam mengangkat senjata, harus dialihkan menjadi energi positif untuk membangun peradaban.
Akrapnews-Papua mengajukan gagasan konkret: Ganti Perang dengan Kompetisi Pembangunan.
Mari kita ubah cara bersaing antarsuku, Alih-alih saling serang dengan panah atau senjata tajam, mari kita adu prestasi dalam hal:
Ketahanan Pangan:
Lomba hasil pertanian (ubi, sayur, buah) dan peternakan (babi, ayam) antar-klan atau antar-distrik.
Kebersihan dan Kesehatan:
Lomba kampung bersih, sanitasi layak, dan angka harapan hidup.
Ekonomi Kreatif:
Pengembangan kerajinan tangan, tenun ikat, dan produk lokal lainnya untuk pasar global.
Pendidikan:
Siapa yang paling banyak meluluskan sarjana dari sukunya?
Ini adalah bentuk "perang" yang mulia. Ini adalah bentuk persaingan yang membawa berkah, bukan kutukan, Oleh sebab itu dengan menggunakan cara ini, harga diri suku tetap terjaga, bahkan meningkat, karena diakui oleh negara dan masyarakat luas sebagai suku yang maju, produktif, dan beradab.
Para Kepala Suku dan tetua adat memegang kunci utama. Anda dihormati bukan karena mampu memimpin perang, tetapi karena mampu menjaga zona damai. Kami mengajak para pemimpin adat untuk:
Menggunakan wibawa adat untuk mendinginkan kepala para pemuda.
Memfasilitasi dialog perdamaian (damai adat) yang tulus, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
Menanamkan nilai bahwa "Orang kuat adalah orang yang mampu menahan amarah dan membangun desanya," bukan orang yang banyak membunuh.
~~~~~~☆Referensi & Konteks Luas☆~~~~~~~
Berbagai laporan dari lembaga hak asasi manusia dan peneliti sosial di Papua (seperti data dari ELSAM, Imparsial, atau kajian akademis Universitas Cenderawasih) secara konsisten menunjukkan bahwa konflik horizontal/perang suku di dataran tinggi Papua sering kali dipicu oleh masalah sepele yang dibesar-besarkan, serta kurangnya saluran ekspresi positif bagi pemuda.
Negara hadir dengan infrastruktur dan dana Otonomi Khusus, namun tanpa kedewasaan sosial dari masyarakat sendiri, pembangunan fisik tidak akan berarti jika nyawa warga terus melayang. Keamanan adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan.
Dengan demikian Kepada warga Distrik Woma, Jayawijaya, dan seluruh tanah Papua, Mari kita sadari bahwa darah yang tumpah di tanah Woma adalah darah saudara kita sendiri. Tidak ada keuntungan materiil maupun spiritual dari peperangan ini.
Mari kita buktikan kepada dunia bahwa orang Papua mampu menyelesaikan masalah dengan kearifan lokal yang dimodernisasi. Mari kita jadikan Distrik Woma sebagai contoh distrik yang bebas konflik, penuh dengan lumbung pangan, dan pusat pendidikan.
Hentikan Perang dan Mulai Membangun, Karena masa depan Papua ada di tangan kita yang bersatu, bukan di ujung senjata yang saling mengarah.
Syowi. 🙏️🕊️
(Tim Redaksi Akrapnews-Papua)
Kontributor : Victor Ririhena
Edit & Publikasi: Andi Askari Mallawa.
0 Komentar