Bagi orang Papua, babi bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah alat tukar sosial, simbol perdamaian, dan medium komunikasi dengan leluhur serta sesama manusia. ( Film Dokumenter Pesta Babi)
JAYAPURA – Dalam hiruk-pikuk dinamika politik modern di Papua, sering kali kita lupa bahwa akar kekuatan orang Papua terletak pada ruang-ruang dialog tradisional, Salah satu ruang paling sakral dan efektif adalah apa yang secara awam disebut sebagai "Pesta Babi". Namun, jika ditelitik lebih dalam melalui kacamata sosiologi politik dan kearifan lokal, pesta ini bukanlah sekadar ajang konsumsi daging. Ia adalah sebuah mekanisme komunikasi politik tingkat tinggi, sebuah ritual untuk "membangunkan" para petinggi, tua-tua adat, dan tokoh agama dari tidur panjang ketidakpedulian.
Melalui editorial ini, Akrapnews-Papua ingin menegaskan kembali makna substansial dari tradisi ini di tengah krisis global yang sedang mengancam keberlangsungan hidup manusia Papua dan keseimbangan alamnya.
☆Pesta Babi sebagai Bahasa Politik Leluhur☆~~~~~~~~~
Bagi orang Papua, babi bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah alat tukar sosial, simbol perdamaian, dan medium komunikasi dengan leluhur serta sesama manusia. Ketika para tetua menggelar pesta babi, mereka sedang mengirimkan pesan kode yang kuat: "Mari kita duduk bersama. Mari kita bicara dari hati ke hati."
Dalam konteks saat ini, "bahasa kalbu" atau "Bahasa Tititan Leluhur" yang dimaksud adalah ajakan untuk kembali pada prinsip dasar, Keseimbangan antara Manusia dan Alam.
Para petinggi adat, tokoh gereja, dan pemimpin masyarakat diajak untuk tidak lagi terbius oleh gemerlap janji pembangunan yang seringkali bersifat eksploitatif. Pesta babi menjadi momen refleksi kolektif untuk menyadari bahwa "Perut Bumi Papua" yang kaya akan emas, tembaga, nikel, hingga hutan hujan tropis sedang dalam kondisi terancam.
Kita harus jujur mengakui bahwa era krisis global saat ini telah membawa wajah baru dari kolonialisme ekonomi. Eksploitasi sumber daya alam di Papua sering kali dibungkus dengan narasi "investasi" dan "pembangunan", namun pada praktiknya, ia menyerupai perampokan, pencurian, dan perampasan hak ulayat yang berdampaknya nyata pada:
Kerusakan Ekologis:
Sungai-sungai keruh, hutan gundul, dan biodiversitas hilang.
Krisis Sosial:
Masyarakat adat tersingkir dari tanah leluhurnya sendiri.
Ketimpangan Ekonomi:
Kekayaan alam dikeruk keluar, sementara kemiskinan tetap mengakar di kampung-kampung.
Jika para petinggi dan tua-tua adat terus diam, atau hanya menjadi "tamu kehormatan" dalam proyek-proyek destruktif tersebut, maka mereka telah mengkhianati amanat leluhur untuk menjaga tanah air.
Oleh karena itu, Akrapnews-Papua mengajak seluruh elemen masyarakat Papua, khususnya para Tua-Tua Adat, Tokoh Agama, dan Pemimpin Politik, untuk menyikapi situasi ini dengan serius.
Pesta babi harus dimaknai ulang sebagai konsili darurat. Di situlah, dengan bahasa yang lembut namun tegas (bahasa kalbu), para tetua harus menyampaikan peringatan keras kepada pemegang kekuasaan dan investor:
"Tanah ini bukan komoditas. Tanah ini adalah ibu yang memberi kehidupan. Jika kamu meracuni perut bumi, kamu meracuni masa depan anak cucumu."
Ini adalah bentuk resistensi kultural. Kita tidak perlu selalu menggunakan senjata atau kekerasan fisik. Kekuatan terbesar orang Papua ada pada persatuan suara adat dan keteguhan moral spiritual.
Selanjutnya untuk menjaga keseimbangan di Tengah Krisis Global
Maka saat ini Dunia sedang menghadapi krisis iklim dan ketahanan pangan. Papua, dengan hutannya yang masih utuh, adalah paru-paru dunia. Menjaga kelestarian alam Papua bukan hanya kepentingan lokal, tetapi kontribusi global.
Namun, perlindungan ini tidak akan terjadi jika para penjaga gawangnya yaitu para pemimpin adat dan agama tertidur oleh bujukan materi atau ketakutan politis. Mereka harus "dibangunkan" melalui dialog-dialog tradisional yang penuh hikmat.
Oleh sebab itu mari kita kembalikan martabat "Pesta Babi" sebagai ruang suci untuk merumuskan strategi penyelamatan tanah air, Biarkan asap bakar babi menjadi sinyal bagi para petinggi untuk membuka mata dan telinga.
Jangan biarkan perut bumi Papua dirampok habis-habisan. Jangan biarkan warisan leluhur hilang ditelan zaman. Dengan memegang teguh Bahasa Tititan Leluhur, kita jaga keseimbangan alam, kita lindungi identitas, dan kita pastikan bahwa Papua tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, tanah tidak dimiliki oleh kita; bahkan sebaliknya kitalah yang dimiliki oleh tanah.Syowi. 🙏🐗🌿
(Tim Redaksi Akrapnews-Papua)
Kontributor: Andi Askari Mallawa.S.Kom
Edit & Publikasi : Victor Ririhena.
0 Komentar