EDITORIAL - AKRAPNEWS-PAPUA: Pencanangan HUT ke-41 GPI Papua: Semangat Persekutuan Jemaat Elim Abepura, Bukti Iman dari Altar ke Jalanan Jayapura

Oleh : Victor Ririhena

     GB  Pose Bersama Pencanangan Menyambut HUT GPI ke 41 Thn.

Akrapnews-Jayapura,||"Gereja bukan sekadar bangunan tempat beribadah, melainkan jantung yang memompa kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. Pesan inilah yang secara tegas digaungkan oleh Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua Jemaat Elim Abepura saat Pencanangan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-41, GPI Papua pada hari, Sabtu (09/05/2026).
     Pelepasan Balon Pencanangan Hut  ke - 41 Thn.

Bertempat di halaman gereja, perayaan yang dimulai sejak pukul 06.00 WIT ini tidak hanya diisi dengan seremoni keagamaan, tetapi juga diterjemahkan menjadi aksi sosial konkret: menjaga kebersihan Kota Jayapura. Sebuah langkah simbolis yang menegaskan visi gereja untuk hadir, melayani, dan memberi manfaat nyata.

~Konteks Sejarah,  Bagian dari Pertumbuhan GPI Papua☆~

Perayaan ini memiliki makna khusus jika ditarik ke dalam sejarah panjang GPI Papua. Sebagai gereja yang resmi berdiri mandiri pada 25 Mei 1985 di Fakfak—setelah melepaskan diri dari Gereja Protestan Maluku (GPM)—GPI Papua kini telah memasuki usia ke-41 tahun pada 2026.
      Wakil Sekerteris Jemaat Ibu, Pnt. L. Muskita-Lekatompessy

Dari awal berdirinya sebagai Sinode mandiri (saat itu bernama GPI Irian Jaya), GPI Papua terus berkembang pesat. Hingga menjelang 2026, struktur pelayanan terus melebar dengan peresmian klasis-klasis baru, seperti Klasis Anim-Ha (Mei 2025) dan Bakal Klasis Irarutu. Jemaat Elim Abepura, yang berlokasi di pusat keramaian Kota Jayapura, menjadi salah satu ujung tombak pelayanan GPI Papua yang adaptif terhadap dinamika masyarakat urban, sembari tetap memegang teguh identitas presbiterial-sinodalnya.
Umat dari wadah-wadah yang hadir menyaksikan acara Pencanagan Hut GPI Papuake.41 thn.

Suasana kekeluargaan terasa kental sejak dini hari. Di bawah kepemimpinan Ketua PHBG Jemaat, Dr. Drs. Marthen Timisela, M.Si., yang didampingi oleh Sekretaris, Sdr. Hempry Pasanea, bersama seluruh elemen jemaat bergerak dalam satu irama. Tidak ada sekat antara pengurus dan umat; semua bahu-membahu menyukseskan acara dengan semangat yang segar.
 Tim Media Regemaselimnews Perlansia  Ibu .Elis Lamia dan Bendahara Perlansia Ibu Itje Siahaya.

Yang menarik, keterlibatan aktif dari seluruh wadah pelayanan kategorial—mulai dari PAR (Pelajar), PPGPI (Pemuda), PW (Perempuan), PERPRI (Pria), hingga PERLANSIA (Lansia)—menjadi tulang punggung acara. Mereka tidak hanya hadir, tetapi secara sukarela menyiapkan konsumsi dan sarapan bagi seluruh peserta. Ini adalah definisi nyata dari persekutuan: saling melayani dalam kasih.
 Mama Ros Leleuly  Motor Penggerak  Dalam Wadah Lansia Jemaat yang Super Enerjik dgn Tarian Waisisinya.

Ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Jemaat (KMJ), Pdt. Vero Balubun, S.Si., serta sambutan dari perwakilan Majelis Pekerja Klasis (MPK) GPI Papua Jayapura, Pdt. Jefri Hindom, M.Th., menjadi momen refleksi. Umat diajak menyadari bahwa usia ke-41 adalah waktu untuk memperbarui tekad, bukan hanya merayakan masa lalu.


~~~~~~~~~☆ Merawat Budaya, Menjaga Ciptaan☆~~~~~~~~~

Perayaan HUT ke-41 ini juga menjadi ruang pelestarian budaya. Kegiatan senam pagi yang diselingi dengan tarian tradisional khas Papua, Wayase, dan Waisisi  berhasil menarik minat berbagai generasi. Langkah ini strategis; mengikat kebersamaan melalui identitas budaya sambil menjaga kesehatan fisik jemaat.

Namun, puncak dari rangkaian acara ini adalah aksi sosial "Sabtu Bersih". Ratusan anggota jemaat yang tergabung dalam berbagai wadah pelayanan turun langsung ke jalan untuk memungut sampah. Aksi ini mengambil rute strategis: mulai dari halaman gereja, menyusuri jalan utama menuju kawasan Mall Saga, dan kembali ke titik awal.

Keterlibatan ratusan anggota dari berbagai kategori usia ini menunjukkan solidaritas tinggi. Mereka bekerja bahu-membahu membersihkan lingkungan, membuktikan bahwa kepedulian terhadap ciptaan Tuhan adalah tanggung jawab bersama.

Aksi ini mendapat apresiasi tinggi dari warga sekitar. Di tengah isu lingkungan yang kian mendesak, kehadiran gereja yang "turun tangan" membersihkan kota adalah pesan moral yang kuat. Sebagaimana ditegaskan Pdt. Vero Balubun, S.Si. bahwa gereja dipanggil menjadi "garam dan terang". Salah satu wujud nyatanya adalah merawat ciptaan Tuhan agar tetap bersih, sehat, dan layak huni.

~~~~~~☆Relevansi GPI di Tengah Masyarakat Modern☆~~~~~~

Menapaki usia ke-41, GPI Papua Elim Abepura menunjukkan relevansinya. Sejak berdirinya GPI Papua pada 1985, gereja ini telah tumbuh bersama dinamika masyarakat, termasuk di wilayah urban seperti Abepura dan Jayapura. Dari pembinaan iman, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi, GPI terus beradaptasi tanpa kehilangan esensinya.

Dr. Drs. Marthen Timisela, M.Si. menekankan bahwa pencanangan ini hanyalah pembuka. "Semangat persaudaraan dan kepedulian yang kita bangun hari ini harus terus hidup dalam pelayanan sehari-hari. Kami siap menjadi mitra pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Jayapura yang bersih, aman, dan damai," ujarnya dengan tegas.

Pencanangan menyongsong HUT ke-41 GPI Papua ini telah mengajarkan kepada kita  semua  bahwa spiritualitas yang sejati selalu berujung pada aksi sosial. Ketika iman dipraktikkan melalui kepedulian yang nyata terhadap lingkungan dan sesama, gereja menjadi relevan bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang.
    Semangat ibu" Wadah Perlansia Wayase & Waisisi

Dengan usia yang matang ini, GPI Papua khususnya dalam  lingkup Jemaat Elim Abepura  papua telah membuktikan diri sebagai gereja yang hidup, bergerak, dan peduli. Semoga semangat ini terus menyala, bagai api injili yang menyala di bumi cendrawasih, dan menjadi berkat bagi Tanah Papua serta kemuliaan Tuhan yang telah dinyatakan  atas Tanah ini.Syowi🙏


Kontributor : Victor Ririhena
Edit by : Andi. Askari. Mallawa


Posting Komentar

0 Komentar