“Dari Papua, Untuk Transparansi dan Kemajuan” (by.Vicky Ririhena)

Dari Papua, Untuk Transparansi dan Kemajuan”

AKRAPNEWS-Jayapura || "Menanggapi Pernyataan Mentri SDM  di salah satu media online di jakarta hari ini,  secara ilustrasi "Ketika Menteri Bicara Soal ‘Air Panas’, Rakyat Bertanya: Gula dan Susunya Mana, Pak?"

Kalau kebijakan pemerintah itu bisa diibaratkan minuman, mungkin kita rakyat ini sudah jadi penikmat teh sejati.

Nah, baru-baru ini, Menteri Bahlil kembali bikin ramai jagat maya,   katanya, impor BBM itu seperti bikin teh.

Awalnya, katanya, Pertamina mau jual teh siap saji, tapi kemudian diminta cukup “air panas saja”.

Waduh, rakyat jadi bingung — ini mau minum teh atau mau berendam?

---*Dari Teh ke BBM: Perjalanan yang Bikin Haus*--

Bayangkan kalau kamu datang ke warung, pesan teh manis, tapi yang dikasih cuma air panas.

Terus si penjual bilang:

“Tenang, gulanya nyusul, tehnya masih di jalan, susunya sedang diproses izin impornya.” Lucu? Iya.

Tapi juga mirip realita: kebijakan sering disajikan setengah matang, rakyat disuruh sabar menunggu rasa manisnya datang.

---*BBM Naik, Humor Turun*--

Pak Menteri memang jago bikin suasana cair.

Tapi sayang, cairnya bukan harga BBM, tapi keringat rakyat yang makin deras.

Sementara rakyat Papua yang di kampung-kampung masih susah dapat bensin, harus naik perahu satu jam cuma untuk beli sebotol “air panas premium”.

Kalau sudah begini, kita hanya bisa ketawa pahit, karena teh tanpa gula pun kadang masih lebih enak daripada janji manis yang tak kunjung diseduh.

---*Transparansi, Tapi Jangan Transparan Sampai Hilang*---

Bahlil bilang ini demi efisiensi dan kerja sama antar lembaga.

Bagus, tapi jangan sampai transparansinya kebablasan, transparan sampai rakyat nggak kelihatan lagi manfaatnya.

---*Dari Papua, Suara Kecil Tapi Tulus*---

Dari ujung timur Indonesia, kami rakyat Papua cuma ingin bilang:

Kami paham, urus negara itu tidak semudah menyeduh teh.

Tapi tolonglah, jangan bikin rakyat harus beli teko sendiri, nyalakan kompor sendiri, lalu disuruh bersyukur karena airnya sudah panas.

---*Statement  Penutup*---

Pak Menteri boleh bercanda, rakyat pun boleh tertawa.

Tapi di balik tawa itu, ada harapan besar:

Agar setiap kebijakan tak hanya hangat di mulut, tapi juga menghangatkan kehidupan rakyat.

Jadi, kalau nanti Pak Menteri mau bikin analogi lagi, kami siap — asal jangan “kopi pahit tanpa gula” ya, Pak.

Kuatir nanti yang terseduh bukan teh, tapi perasaan rakyat sendiri. Syowi🙏

Kontributor : "AKRAPNEWSPAPUA"

                         ( Vicky Ririhena)

Posting Komentar

0 Komentar