Republik Thrifting-Ku Berduka: Antara Gengsi Tekstil Lokal dan Pesona Barang Seken Impor

Republik Thrifting-Ku Berduka: Antara Gengsi Tekstil Lokal dan Pesona Barang Seken Impor
     
          "Editorial oleh. Vicky Ririhena"
 
    Menkeu Purbaya Terima Audiensi 
    Asosiasi Garment dan Textile Indonesia,

 
AKRAPNEWS-Jayapura || Industri tekstil kita kaya budaya, namun penuh paradoks. Ia gagah perkasa, meski sedikit merana.
 
Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) mendukung Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberantas impor pakaian bekas ilegal. Sebagaimana dikutip lewat salah satu media online Jakarta, 05 November 2025

Tujuannya jelas: melindungi industri lokal, menjaga lapangan kerja, dan memajukan ekonomi bangsa. Tapi, mengapa kita harus mencegah barang yang sudah membayar bea masuk?

 Harganya pun terjangkau. Apakah pengusaha tekstil kita sudah menyerah sebelum berjuang? Ironisnya, kita lebih pintar mengkritik daripada berinovasi.
 
AGTI berpendapat bahwa impor pakaian bekas merugikan industri tekstil dalam negeri. Mereka khawatir UMKM garmen akan bangkrut karena kalah bersaing dengan harga murah barang bekas bermerek. Tapi, ini pasar bebas! Konsumen bebas memilih yang terbaik sesuai kemampuan mereka. 

Mengapa pengusaha lokal tidak mencoba strategi thrifting dengan membuat produk berkualitas dan harga terjangkau? Atau, kita hanya bisa meminta perlindungan tanpa berusaha?
 
Pemerintah berencana mendaur ulang pakaian bekas menjadi bahan baku tekstil. AGTI siap membantu pedagang thrifting dengan menyediakan produk lokal jika mereka kesulitan mencari barang. 

Namun, ini hanya solusi sementara. Kita butuh riset pasar yang mendalam, belajar dari negara lain, dan berhenti menyalahkan pihak lain atas ketidakmampuan kita.
 
Republik ini memang unik. Kita bangga dengan produk lokal, tapi juga tergila-gila dengan barang impor. Kita ingin melindungi UMKM, tapi juga menginginkan harga murah. 

Kita ingin industri tekstil maju, tapi malas berinovasi. Sampai kapan kita akan terus berputar-putar dengan masalah yang sama? Mungkin, saatnya kita merenung dan bertanya: "Apa yang salah dengan pasar tekstil Indonesia?" Mungkin, yang perlu diubah bukan hanya aturan impor, tapi juga pola pikir kita. Syowi. 🙏
Kontributor: Vicky Ririhena - (Humas Akrapnews Papua). 
             

Posting Komentar

0 Komentar