Ketika Daftar Pahlawan Belum Lengkap, Sebuah Refleksi Kebangsaan.
Editorial by: Vicky Ririhena
AKRAPNEWS-Jayapura,|| Beberapa waktu lalu, Istana Negara kembali menjadi saksi bisu penganugerahan gelar pahlawan nasional. Sepuluh nama, diumumkan dengan khidmat oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin, 10 Nopember 2025 menghiasi lembaran sejarah bangsa.
Ada nama-nama seperti; Gus Dur, simbol pluralisme; Soeharto, arsitek pembangunan; dan Marsinah, ikon perjuangan buruh. Namun, di balik kilau medali dan pidato-pidato yang menggugah, tersembunyi pertanyaan yang tak bisa diabaikan: Mengapa lagi-lagi Papua absen dari daftar ini?
Sebagai seorang jurnalis, saya terlatih untuk skeptis, untuk menggali lebih dalam di balik permukaan. Daftar pahlawan nasional seharusnya mencerminkan mozaik perjuangan bangsa, dari Sabang hingga Merauke. Namun, kenyataannya, representasi wilayah masih timpang. Jawa dan Sumatera mendominasi, sementara suara dari timur, dari tanah Papua yang kaya akan sejarah dan heroisme, nyaris tak terdengar.
Mengapa demikian? Apakah karena minimnya riset dan dokumentasi? Mungkin. Sejarah Papua seringkali terpinggirkan, tenggelam dalam narasi besar tentang Indonesia. Atau, mungkinkah kriteria penilaian yang ada belum cukup inklusif, gagal menangkap nuansa perjuangan yang khas di tanah Papua?
Lebih dari sekadar soal representasi, absennya tokoh Papua dalam daftar pahlawan nasional adalah simbol ketidakadilan sejarah. Ini adalah pengingat bahwa kita masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk menuntaskan rekonsiliasi dan memberikan pengakuan yang setara kepada seluruh anak bangsa.
Editorial ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan jasa para pahlawan yang telah diakui. Namun, kita harus berani jujur pada diri sendiri: Daftar pahlawan nasional belum lengkap. Ia masih menyisakan lubang besar yang menganga, sebuah representasi dari ketidaksempurnaan narasi kebangsaan kita.
Saatnya bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas untuk membuka mata dan telinga. Mari kita gali sejarah Papua, angkat kisah-kisah heroik yang tersembunyi, dan berikan penghormatan yang layak kepada para pejuang dari tanah Cenderawasih.
Karena, pada akhirnya, keadilan sejarah adalah fondasi utama bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Tanpa itu, narasi kebangsaan kita akan selalu terasa pincang, tidak utuh, dan kurang elegan.Syowi🙏
Kontributor. akrapnews (Vicky Ririhena)
0 Komentar