: *Soeharto,Warisan,Kompleks, di Balik, Wacana, Kepahlawanan*

Editorial: *Soeharto Warisan Kompleks di Balik Wacana     
           Kepahlawanan* 

        *(AKRAPNEWS)* 
             09-11-2025
 
Jayapura-Papua || Wacana mengenai kemungkinan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto kembali mengemuka, memicu diskusi mendalam di kalangan masyarakat dan politik.Titiek Soeharto mengungkapkan bahwa masih ada satu fraksi di DPR RI yang belum menyetujui gagasan ini, sebuah pernyataan yang menuai beragam tanggapan, termasuk dari tokoh seperti Rajiv Singh yang menyatakan keterkejutannya.

Soeharto, yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade, meninggalkan jejak sejarah yang kompleks. Di satu sisi, namanya identik dengan pembangunan pesat yang berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada pangan dan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan.

Program-program seperti Repelita dan Inpres menjadi pilar utama dalam memajukan infrastruktur dan sektor pertanian.Namun, periode pemerintahannya juga diwarnai oleh praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang meluas. Kebebasan pers dan berekspresi dibatasi, sementara catatan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) menghantui berbagai wilayah, termasuk Timor Timur dan Papua.

 Tragedi Trisakti dan Semanggi pada tahun 1998 menjadi puncak gelombang ketidakpuasan terhadap rezim Orde Baru.Menimbang antara kontribusi positif dan sisi gelap sejarah Soeharto, sulit untuk menarik kesimpulan tunggal. Bagi sebagian pihak, ia adalah tokoh sentral pembangunan yang berjasa besar bagi kemajuan Indonesia.

 Sementara bagi pihak lain, ia adalah personifikasi dari sistem otoriter dan praktik KKN yang merugikan negara.

Keputusan untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto bukanlah hal yang dapat diambil dengan ringan. Pemerintah dan DPR RI perlu mempertimbangkan berbagai dimensi sejarah, sosial, dan politik secara hati-hati dan transparan. Jangan sampai keputusan ini justru memperdalam perpecahan dan membuka kembali luka lama di masyarakat.

Sebagai bangsa yang besar, kita perlu menghargai sejarah dalam segala kerumitannya. Mengakui peran Soeharto dalam pembangunan tidak berarti mengabaikan atau membenarkan kesalahan yang terjadi di masa lalu. Justru dengan memahami sejarah secara komprehensif, kita dapat memetik pelajaran berharga dan membangun masa depan yang lebih baik. Syowi(Humas Media AKRAPNEWS, Vicky Ririhena)

Posting Komentar

0 Komentar